Ingetindonesia.com,Solok — Pasca banjir bandang (Galodo) yang telah terjadi berulang kali, warga Muara Pingai, Sumatera Barat, mulai melakukan langkah-langkah mitigasi bencana secara mandiri. berbagai ibu-ibu terlihat memungutker dan menyusun batu di tepi sungai sebagai upaya membangun tanggul darurat untuk melindungi rumah mereka dari luapan air
Salah seorang warga, Riri, mengatakan tanggul tersebut dibangun agar aliran sungai tidak kembali menggerus tanah di sekitar organisasi. “Kalau air naik lagi, setidaknya tidak langsung mengikis tanah dan masuk ke rumah,” ujarnya. Kondisi tanah yang masih basah akibat banjir sebelumnya membuat wilayah tersebut rawan dan berbahaya jika tergerus kembali.
Di sekitar lokasi, dapur dan bagian belakang rumah warga berada sangat dekat dengan sungai. Warga terpaksa memasang tanggul sederhana demi mencegah air kembali meluap. Hingga kini, tercatat air sungai telah naik sebanyak lima kali pascabanjir bandang, meninggalkan kerusakan serius di bantaran sungai.
Direktur Eksekutif Konferensi Agama dan Perdamaian Indonesia (ICRP), Ilma Sofrianti, menegaskan bahwa upaya mitigasi bencana seharusnya dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyoroti keberadaan pohon batang lapai yang telah berusia ratusan tahun dan terbukti sedikit melindungi empat rumah dari terjangan banjir bandang.
“Pohon ini bukan penghalang, justru menjadi benteng alami. Akar-akarnya sangat kuat dan membantu menahan arus udara. Tidak ada alasan melakukan normalisasi sungai dengan menebang pohon langka seperti ini,” tegas Ilma.
Menurutnya, sebelum banjir bandang terjadi, di bawah bantaran sungai sudah terdapat batu bronjong yang berfungsi sebagai penahan. Upaya normalisasi seharusnya dilakukan dengan memperkuat kembali bronjong tersebut dan mengangkat material sungai yang dangkal, bukan dengan melebarkan alur sungai ke arah organisme warga atau menebang pohon tua yang memiliki fungsi ekologis penting.
Ilma juga mengingatkan bahwa banjir bandang yang terjadi merupakan dampak dari rusaknya ekosistem di hulu, termasuk maraknya penebangan liar. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kejahatan ekologis yang dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kerusakan ini tidak terjadi dalam sehari, dan pemulihannya juga tidak bisa hanya dalam satu bulan atau satu tahun. Kita harus berhenti melakukan pembiaran terhadap kerusakan alam,” katanya.
Selain upaya fisik, kesadaran lingkungan warga mulai tumbuh. Masyarakat kini mulai membangun septic tank agar limbah rumah tangga tidak lagi dibuang langsung ke sungai. Langkah ini dinilai sebagai bagian penting dari upaya menjaga kualitas udara yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.
ICRP, lanjut Ilma, akan terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat Muara Pingai, terutama generasi muda, tentang pentingnya memahami karakter alam dan merawat lingkungan. Edukasi tersebut mencakup pengelolaan sungai yang bijak, perlindungan pohon langka, serta mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
“Alam itu tidak diam. Ketika kita abai, alam bisa berbicara lewat bencana. Tapi jika kita merawat dan menyayangi alam, alam juga akan melindungi kita,” tutupnya.












