
Ingetindonesia.com,Jakarta – Ekonom dan analis kebijakan Jeffrey Sachs memperingatkan Iran berpotensi menjadi sasaran berikutnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul operasi mendadak pasukan khusus AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro akhir pekan lalu.
Dalam wawancara dengan sejumlah media India, Sachs menilai langkah Washington di Caracas bisa menjadi bagian dari pola kebijakan luar negeri yang sama jika diarahkan ke Teheran.

Sachs menyebut Israel memiliki obsesi kuat terhadap Iran dan mendorong Amerika Serikat untuk terlibat dalam konflik yang sejalan dengan kepentingan Tel Aviv. Ia bahkan menilai AS kerap berperang dalam konflik yang diinginkan Israel.
Menurutnya, pernyataan Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 29 Desember lalu di Mar-a-Lago menjadi sinyal bahwa Iran berpotensi menjadi target selanjutnya, terlebih dengan komentar Trump terkait gelombang protes yang tengah berlangsung di negara tersebut.
Ia juga menilai penggunaan isu hak asasi manusia sebagai dalih intervensi merupakan “pola standar” atau standard playbook yang kerap digunakan. Sachs mengingatkan intervensi terhadap Iran akan jauh lebih berbahaya dibandingkan Venezuela, mengingat posisi strategis Iran di kawasan Timur Tengah, keterlibatan banyak kekuatan besar, serta kemampuan militer Teheran, termasuk kepemilikan rudal hipersonik. Menurutnya, skenario tersebut berisiko memicu eskalasi global yang serius.
Ketegangan meningkat di Iran sejak akhir Desember, dipicu oleh protes atas melonjaknya biaya hidup. Aksi demonstrasi telah menyebar dari Teheran ke berbagai kota lain, termasuk kawasan ekonomi penting seperti Grand Bazaar.
Bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran pun dilaporkan terjadi, dengan penggunaan gas air mata oleh polisi. Pemerintah Iran memperingatkan tidak akan mentoleransi campur tangan asing, sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan musuh dari luar.










