Ingetindonesia,Solok – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) melaksanakan gerakan penanaman pohon pasca bencana galodo atau banjir bandang di wilayah Junjung Sirih, Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan ekologi dan sosial bagi masyarakat terdampak, khususnya para petani.
Direktur Eksekutif ICRP, Ilma Sovri Yanti, mengatakan bahwa gerakan ini tidak hanya bersifat simbolik, melainkan sebagai program jangka panjang yang bertujuan menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Gerakan ini sudah berlangsung sejak 2 Januari 2026.
“Tujuan gerakan utama ini adalah mitigasi bencana, dengan menstabilkan tanah, mengurangi erosi, serta mencegah banjir dan longsor susulan melalui akar pohon yang mengikat tanah,” ujar Ilma.
Selain itu, gerakan penanaman pohon ini juga bertujuan memulihkan ekosistem dengan mengembalikan fungsi hidrologi, menjaga keanekaragaman hayati, serta memperbaiki kualitas udara di kawasan yang terkena dampak bencana.
ICRP juga menekankan manfaat ekonomi dari program tersebut. Menurut Ilma, penanaman pohon buah dan kayu bernilai ekonomis diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani yang sebelumnya mengalami kerugian akibat galodo.
“Ketahanan lingkungan akan menciptakan ruang hidup yang lebih hijau, sejuk, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, ICRP menanam dua jenis pohon utama, yakni pohon pelindung dan pohon produktif. Pohon pelindung seperti beringin, trembesi, dan bambu ditanam di bantaran sungai serta lereng untuk memperkuat struktur tanah. Sementara itu, pohon produktif seperti durian, mangga, alpukat, kopi, buah naga, jati, dan mahoni ditanam di lahan pertanian sebagai investasi ekonomi jangka panjang bagi petani.
Gerakan ini melibatkan berbagai pihak. Para petani menjadi garda terdepan dengan menanam langsung di lahan mereka serta memilih jenis pohon yang sesuai dengan kondisi tanah. Dukungan juga datang dari organisasi masyarakat, komunitas, dan lintas sektor yang membantu proses penanaman dan edukasi lingkungan.
ICRP berharap pemerintah daerah, melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian, dapat terus memberikan dukungan berupa penyediaan bibit, pendampingan teknis, serta kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan.
“Kami ingin gerakan ini tumbuh dari tingkat desa, kecamatan, hingga menjadi program di tingkat provinsi,” kata Ilma.
Sebagai aksi nyata, ICRP menargetkan penanaman seribu bibit pohon di kawasan desa pasca bencana. Selain itu, penanaman juga dilakukan di bantaran sungai dan kawasan persawahan sebagai bentuk respon terhadap bencana sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.
Gerakan ini menjadi bagian dari kampanye besar “Tanam Satu Juta Pohon” di Sumatera Barat, sebagai upaya perbaikan kerusakan lingkungan pasca bencana dan langkah membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.












