APBN Defisit Rp240,1 Triliun hingga Agustus 2026, Suahasil: Masih Terkendali

Berita, Ekonomi136 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,JAKARTA – Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengumumkan kondisi terkini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Agustus 2026. Dalam laporan tersebut, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Penyampaian kondisi APBN tersebut menjadi yang pertama dilakukan Suahasil Nazara dalam kapasitasnya sebagai Menteri Keuangan.

banner 336x280

Suahasil mengatakan, meski mengalami defisit, kinerja APBN hingga akhir Agustus 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali. Ia menyebut perjalanan APBN masih sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan pemerintah.

“Hingga akhir Agustus kinerja APBN itu tetap kuat dengan keseimbangan primer positif, defisit tetap dalam batasan terkendali. Ini artinya perjalanan APBN relatif on track,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jumat (18/9/2026).

Pendapatan Negara Tumbuh 25,4 Persen

Berdasarkan laporan pemerintah, pendapatan negara hingga Agustus 2026 mencapai Rp2.055,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Realisasi pendapatan tersebut telah mencapai 65,2 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN.

Sementara itu, realisasi belanja negara hingga Agustus 2026 mencapai Rp2.295,7 triliun. Angka tersebut setara dengan 59,7 persen dari pagu anggaran dan tumbuh 17,1 persen secara tahunan.

Selisih antara pendapatan dan belanja tersebut menyebabkan APBN mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun.

Suahasil menjelaskan bahwa defisit APBN terjadi ketika pendapatan negara lebih kecil dibandingkan dengan belanja negara yang dikeluarkan pemerintah.

Meski demikian, keseimbangan primer APBN masih mencatatkan surplus Rp154 triliun hingga Agustus 2026.

Pemerintah Pantau Ekonomi Global

Selain perkembangan APBN dalam negeri, pemerintah juga terus mencermati kondisi perekonomian global yang dapat memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung. Pemerintah juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

“Kita baca gimana konflik Timur Tengah masih berlanjut, tambah seru, di tengah-tengah itu 2 hari lalu banyak yang sudah melaporkan juga bahwa The Fed menaikkan suku bunga. Tentu ini antisipasi di sisi Amerika karena dia antisipasi dari perekonomian AS,” ujar Suahasil.

Pemerintah akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menjaga agar pelaksanaan APBN tetap berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *