Ekspansi Data Center Indonesia Dorong Kebutuhan Listrik dan Air

Berita, Techno55 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,JAKARTA – Ekspansi data center Indonesia diproyeksikan membutuhkan kesiapan pasokan listrik dan pengelolaan sumber daya air. Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting seiring kapasitas data center Indonesia yang diperkirakan dapat mencapai 11–12 gigawatt (GW) pada 2030.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan kebutuhan listrik menjadi salah satu isu strategis dalam pengembangan data center di Indonesia.

banner 336x280

Menurut Hendra, konsumsi listrik data center tidak hanya berasal dari perangkat teknologi informasi (IT). Sistem pendingin dan berbagai fasilitas pendukung juga membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.

“Listrik memang merupakan isu paling strategis dalam ekspansi data center. Karena itu, apabila Indonesia benar-benar berkembang menjadi pasar multi-gigawatt, kebutuhan listrik data center juga akan menjadi multi-gigawatt. Ini bukan angka kecil dan harus masuk dalam perencanaan sistem kelistrikan nasional sejak sekarang,” kata Hendra kepada Kontan.co.id, Jumat (25/9/2026).

Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia

Besarnya kebutuhan listrik data center antara lain dapat dilihat melalui indikator Power Usage Effectiveness (PUE). Indikator ini membandingkan total konsumsi energi sebuah fasilitas dengan energi yang digunakan oleh peralatan IT.

Semakin efisien sebuah data center, semakin kecil tambahan listrik yang dibutuhkan di luar beban perangkat IT.

Hendra memberikan gambaran, data center dengan PUE sekitar 1,3–1,5 membutuhkan facility power sekitar 1,3–1,5 megawatt (MW) untuk setiap 1 MW beban IT.

Selain jumlah pasokan listrik, sumber energi yang digunakan juga menjadi perhatian dalam pengembangan data center Indonesia.

Pertumbuhan konsumsi listrik data center berpotensi meningkatkan jejak karbon apabila kebutuhan energi masih banyak dipenuhi pembangkit berbasis fosil.

“IDPRO mendorong agar pertumbuhan data center justru menjadi salah satu katalis percepatan energi terbarukan Indonesia,” ujar Hendra.

Karena itu, pengembangan data center dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik yang lebih ramah lingkungan.

Kondisi tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara pemerintah, PLN, pengembang energi, dan pelaku industri data center untuk menyiapkan kebutuhan listrik dalam jangka panjang.

Pengelolaan Air Data Center Jadi Perhatian

Selain kebutuhan listrik, pengelolaan air data center juga menjadi perhatian dalam ekspansi industri digital Indonesia.

Kebutuhan air terutama berkaitan dengan fasilitas yang menggunakan sistem pendinginan dengan konsumsi air dalam jumlah besar. Namun, konsumsi air setiap data center tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada desain fasilitas dan teknologi cooling yang digunakan.

IDPRO menilai penggunaan air lebih tepat diukur melalui indikator Water Usage Effectiveness (WUE). Indikator tersebut mengukur jumlah liter air yang digunakan untuk setiap kilowatt-hour (kWh) energi IT.

Menurut Hendra, persoalan ketersediaan air akan semakin penting ketika data center dibangun dalam skala besar. Untuk proyek dengan kapasitas hingga ratusan MW, pengelolaan sumber air idealnya sudah diperhitungkan sejak tahap perancangan.

“Untuk lokasi yang berdekatan dengan sumber air seperti Jatiluhur, kedekatan terhadap sumber air tidak boleh diterjemahkan sebagai kebebasan menggunakan air tanpa batas. Harus ada kajian water balance dan carrying capacity yang jelas,” jelasnya.

Data Center Perlu Perhatikan Kebutuhan Masyarakat

Pemanfaatan air untuk industri data center tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitar lokasi. Kebutuhan tersebut antara lain mencakup air minum, pertanian, dan irigasi.

Dengan demikian, keberhasilan investasi data center tidak hanya diukur dari kapasitas infrastruktur yang berhasil dibangun.

Efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sumber daya air, serta kontribusi terhadap perekonomian lokal juga perlu menjadi bagian dari evaluasi pengembangan data center Indonesia.

Hendra mengatakan pengembangan industri data center pada akhirnya perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan infrastruktur digital, keberlanjutan lingkungan, dan manfaat ekonomi.

“Targetnya adalah menjadikan Indonesia sebagai lokasi data center yang reliable, sustainable, energy-efficient, water-responsible dan memberikan economic value yang sebesar-besarnya bagi Indonesia,” pungkasnya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *