Ingetindonesia.com,JAKARTA — Dewan Pengawas Indonesian Conference on Religion and Peace, William Kwan, menekankan pentingnya membangun hubungan antarumat beragama melalui kerja sama sosial dan kegiatan ekonomi bersama. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif untuk mempererat hubungan masyarakat dibandingkan dialog formal yang hanya fokus pada agama.
Dalam sebuah diskusi pada Senin (25/5), William mengatakan bahwa inti dari membangun kerukunan bukanlah memperdebatkan ajaran agama masing-masing, melainkan menciptakan ruang “muamalah” atau kerja sama sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Dialognya itu muamalah, dialog karya, dialog kemanusiaan. Kalau hanya bicara toleransi secara formal, tidak akan ketemu dengan masyarakat luas,” ujar William.
Ia menilai, pendekatan berbasis kegiatan bersama akan lebih mudah diterima masyarakat karena memberi manfaat secara langsung, seperti memperluas hubungan, membuka peluang ekonomi, hingga menambah pengetahuan tanpa membebani masyarakat dengan memuat teologis.
William mencontohkan kolaborasi lintas agama dalam mendukung usaha kecil masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu pelaku usaha rumahan. Ia menggambarkan bagaimana produk kuliner dapat menjadi simbol kebersamaan antarumat beragama.
Menurutnya, apabila dalam tradisi makanan tertentu dikecualikan oleh satu tokoh agama, maka dalam semangat lintas agama atau lintas iman, produk tersebut bisa menjadi simbol persatuan karena didukung dan didoakan bersama oleh berbagai tokoh agama.
“Di dalam apa saja yang disediakan kita, tidak mungkin itu hanya milik satu agama. Semua bercampur dan bekerja bersama,” katanya.
William juga menegaskan bahwa kegiatan lintas iman tidak boleh berhenti pada seremoni atau forum diskusi, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata untuk membantu masyarakat yang sedang berjuang secara ekonomi. Ia mencontohkan dukungan bersama terhadap kelompok perempuan pelaku usaha yang berasal dari berbagai latar belakang agama.
Menurutnya, pendekatan simbolik juga penting digunakan untuk memperkuat persatuan pesan di tengah masyarakat. Namun simbol tersebut harus diarahkan untuk menyatukan, bukan memecah belah.
“Kalau biasanya simbol dipakai untuk memutar atau membelah, sekarang kita harus menciptakan simbol yang mempersatukan,” ujar William.












