Viral Usai Kritik Program MBG dan Turun Aksi, Fatimah Azzahra BEM UI Jadi Sorotan Publik

Fatimah Azzahra menilai persoalan pendidikan dan kesehatan lebih mendesak untuk dituntaskan

Berita, Ekonomi28 Views

Ingetindonesia.com,Jakarta – Nama Fatimah Azzahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026, menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir.

 

Sosoknya ramai diperbincangkan sejak mahasiswa Universitas Indonesia turun ke jalan menyuarakan tuntutan perbaikan ekonomi nasional. Aksi dan pidato Fatimah saat berorasi tersebar luas di media sosial dan membuatnya beberapa kali diundang dalam berbagai program diskusi televisi.

Popularitas Fatimah semakin meningkat setelah penampilannya dalam diskusi di CNN Indonesia mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral.

Dalam forum tersebut, ia menanggapi pandangan Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, yang menilai program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu memiliki dampak ekonomi luas karena melibatkan petani, peternak, nelayan hingga pelaku UMKM.
Fatimah mengakui pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak, namun menurutnya masih terdapat persoalan yang lebih mendesak untuk diselesaikan pemerintah, terutama akses pendidikan dan infrastruktur dasar di berbagai daerah.

“Sebelum kita memberikan yang tambahan-tambahannya berupa makan bergizi gratis, apa yang wajib dan standar perlu dipenuhi terlebih dahulu,” ujar Fatimah dalam diskusi tersebut.

Pernyataan itu mendapat respons positif dari banyak warganet yang menilai argumentasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023 itu lugas dan mewakili keresahan masyarakat.

Dalam wawancara dengan media Fatimah juga menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurutnya, keduanya memiliki visi besar dalam membangun Indonesia, namun kepemimpinan pada aspek programatik dinilai belum terlihat secara optimal.

“Namun yang saya rasa absen, justru kepemimpinan atas hal-hal programatik,” kata Fatimah.

Ia menilai sejumlah program pemerintah dipaksakan berjalan di tengah kondisi masyarakat yang justru membutuhkan kebijakan lain yang lebih mendesak. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat persoalan di tingkat akar rumput semakin kompleks.

“Dalam kondisi saat ini, ketika persoalan yang menyangkut program-program tersebut semakin pelik, saya khawatir ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di posisi tertentu di bawah Presiden dan Wakil Presiden,” ujarnya.

Fatimah menilai sumber daya negara yang besar seharusnya lebih difokuskan untuk menyelesaikan persoalan mendasar yang telah memiliki solusi jelas, ketimbang digunakan untuk program yang konsep dan tujuannya dinilai belum konsisten.

“Bahkan mungkin dikorbankan demi proyek percobaan,” tegasnya.
Ia mencontohkan sektor kesehatan dan pendidikan sebagai bidang yang membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, BPJS Kesehatan menghadapi ancaman defisit anggaran, sementara berbagai persoalan pendidikan kerap hanya menjadi bahan kampanye tanpa implementasi yang memadai.

“Hal ini merupakan persoalan yang urgensi dan tujuannya bukan hanya jelas, tapi urgensinya amat tinggi, yang kita harapkan dituntaskan dahulu,” tuturnya.

Fatimah juga menilai terdapat kegamangan dalam konsep dan tujuan sejumlah kebijakan pemerintah yang berdampak pada implementasi di lapangan.

“Saya lihat adalah kegamangan pada konsep dan tujuan kebijakan itu sendiri, dan itu jauh lebih serius,” katanya.

Menurut Fatimah, kunci perbaikan kebijakan berada di tangan Presiden Prabowo sebagai kepala negara. Ia berharap arah kepemimpinan dan kebijakan pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan riil masyarakat.

“Jika persoalannya terletak pada karakter kepemimpinan mereka sendiri, maka mengganti siapa pun yang ada di bawahnya bisa jadi tidak akan menyelesaikan masalah,” ucapnya.

Selain aktif dalam organisasi mahasiswa, Fatimah memiliki sejumlah prestasi akademik. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa UI 2025, memimpin Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI pada 2024, serta meraih Juara I kompetisi riset nasional The 17th Liver Update pada 2025 bersama timnya.

Perpaduan antara rekam jejak akademik, pengalaman organisasi, serta keberaniannya menyampaikan kritik di ruang publik membuat nama Fatimah Azzahra semakin dikenal luas sebagai salah satu figur mahasiswa yang vokal dalam mengawal isu kebijakan nasional.