Umat ​​Baha’i Rayakan Naw-Ruz 183 BE, Tegaskan Pesan Persatuan dan Cinta Kasih

Berita346 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com, Jakarta- Umat ​​​​​​​​Baha’i di seluruh dunia merayakan Hari Raya Naw-Ruz atau Tahun Baru Baha’i dengan suka penuh cita pada 21 Maret 2026. Perayaan ini menandai berakhirnya masa puasa selama 19 hari dalam kalender Baha’i, sekaligus menjadi momen spiritual yang sarat bersama, pembaruan, dan persatuan umat manusia.

Memasuki tahun ke-183 Era Baha’i, rangkaian Naw-Ruz diawali dengan doa bersama dan pembacaan tulisan suci. Selain itu, umat Baha’i mengadakan ramah tamah serta saling mengunjungi kerabat dan sahabat, termasuk dari berbagai latar belakang agama.

banner 336x280

Salah satu pesan utama dalam perayaan tahun ini adalah pentingnya persatuan dan cinta kasih sebagai landasan kehidupan bersama.

“Pesan dari perayaan Hari Naw-Ruz kali ini sesuai dengan visi Bahá’u’lláh yaitu persatuan dan cinta kasih sesama umat manusia. Cinta kasih menjadi kunci untuk mewujudkan masyarakat yang bersatu, bukan hanya dalam komunitas, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia. Kalau bersatu kita maju, dan kalau terpecah kita akan runtuh,” ujar salah satu anggota Baha’i.

Perayaan Naw-Ruz juga menghadirkan berbagai tokoh lintas agama dan lembaga seperti Indonesian Confrence on Religion and Peace (ICRP), Komnas HAM, serta Komnas Perempuan. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya semangat toleransi dan dialog antarumat beragama di Indonesia.

William Kwan, pengawas ICRP yang turut hadir, mengungkapkan apresiasinya terhadap ajaran Baha’i yang mendorong persatuan umat manusia.

“Saya terinspirasi dan bersyukur belajar tentang agama Baha’i yang mengajarkan bahwa tidak ada batas antaragama yang berbeda. Semua agama memiliki kebenaran dalam spiritualitas dan implementasinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, ajaran Baha’i menekankan adanya kebenaran universal yang setara dan patut dihargai bersama.

Lebih dari sekadar perayaan tahun baru, Naw-Ruz memiliki makna mendalam dalam ajaran Baha’i. Direktur PCRP sekaligus Dosen STF Driyarkara, Budhy Munawar-Rachman, menjelaskan bahwa Naw-Ruz merupakan salah satu hari raya tertua di dunia yang lahir dari peradaban tradisi Persia kuno dan dirayakan saat titik ekuinoks musim semi—simbol keseimbangan dan awal kehidupan baru.

 

Dalam tradisi global modern, Nawruz dirayakan oleh jutaan orang di Iran, Asia Tengah, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, serta berbagai komunitas diaspora di seluruh dunia. Namun bagi umat Baha’i, Nawruz bukan sekadar festival budaya atau pergantian musim; ia merupakan hari suci yang sarat makna spiritual. Dalam agama Baha’i, Nawruz menandai akhir dari masa puasa tahunan serta menjadi simbol kesegaran jiwa, harapan, dan kebangkitan spiritual manusia.

Budhy Munawar-Rachman adalah seorang ulama Islam progresif asal Indonesia. Beliau adalah dosen kajian Islam di Universitas Paramadina dan editor jurnal Islam Ulummul Qur’an.

“Dalam agama Baha’i, Naw-Ruz bukan sekadar pergantian musim, melainkan hari suci yang menandai kesegaran jiwa, harapan, dan kebangkitan rohani manusia,” ungkap Budhy.

 Secara etimologis, kata Nawruz berasal dari bahasa Persia now yang berarti “baru” dan ruz yang berarti “hari”. Secara harfiah, Nawruz berarti “hari baru”. Naw-Ruz yang berarti “hari baru”, yang dalam perspektif Baha’i dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbarui diri secara spiritual.

Setelah menjalani puasa selama 19 hari sebagai bentuk pengendalian diri dan penyucian batin, umat Baha’i merayakan Naw-Ruz sebagai momentum memulai kehidupan yang lebih baik.

Ajaran Baha’u’llah juga menempatkan Naw-Ruz sebagai simbol hubungan antara siklus alam dan perjalanan spiritual manusia. Musim semi dipandang sebagai metafora kebangkitan rohani, di mana manusia diajak untuk memperbarui hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Selain dimensi spiritual, Naw-Ruz juga memiliki makna sosial yang kuat. Perayaan ini menjadi sarana mempererat solidaritas, membangun keharmonisan, serta mendorong terwujudnya persatuan umat manusia.

Agama Baha’i sendiri telah hadir di Indonesia sejak tahun 1885 dan terus berkembang sebagai komunitas yang terbuka bagi semua kalangan. Umat ​​Baha’i meyakini bahwa seluruh manusia berasal dari satu sumber yang sama dan menyembah Tuhan yang satu, sehingga menjunjung tinggi nilai persaudaraan universal.

Di tengah tantangan dunia modern seperti konflik, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan, Naw-Ruz menjadi pengingat bahwa pembaruan selalu mungkin terjadi—dimulai dari perubahan diri.

Perayaan ini pun menjadi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi lintas iman, sekaligus mendorong kolaborasi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih damai, adil, dan sejahtera, baik secara fisik maupun spiritual.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed