Tokoh Nasional Serukan Persatuan dan Kohesi Sosial di Tengah Keberagaman Bangsa

Berita902 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta- Perayaan Hari Raya Ridwan 183 Era Baha’i (EB) yang digelar komunitas Baha’i Indonesia menjadi momentum untuk meneguhkan semangat persatuan, toleransi, dan kohesi sosial di tengah keberagaman bangsa. Acara ini menampilkan sejumlah tokoh nasional dan lintas iman yang menekankan pentingnya menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk mempererat persaudaraan.

Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dalam Berbagainya menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan berbangsa adalah bagaimana memaknai keberagaman secara sehat dan konstruktif. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang memandang kemajemukan sebagai ancaman, bukan sebagai anugerah.

banner 336x280

“Jika yang berbeda itu lebih kecil atau sedikit, sering kali diabaikan atau ditepis. Sebaliknya, jika yang berbeda itu lebih besar, pihak yang kecil cenderung menarik diri. Keduanya tidak sehat dalam kehidupan bersama,” ujar Lukman.

Ia menambahkan, di tengah perbedaan dogma dan ritual keagamaan, seluruh manusia sejatinya dipersatukan oleh nilai-nilai universal. “Kemanusiaan, keadilan, persamaan, dan kasih sayang adalah titik temu kita bersama,” katanya.

Lukman juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga komitmen persahabatan dengan berjiwa besar dan menjunjung tinggi tenggang rasa di tengah kemajemukan Indonesia.

Senada dengan itu, Sinta Nuriyah Wahid menyampaikan kebahagiaannya dapat kembali hadir bersama komunitas Baha’i. Ia menilai hubungan yang terjalin selama ini merupakan wujud nyata persahabatan lintas iman yang terus terjaga melalui berbagai kegiatan bersama.

Sinta mengungkapkan bahwa perwakilan komunitas Baha’i secara konsisten turut hadir dalam kegiatan sahur bersama yang ia selenggarakan di berbagai daerah. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa dialog antarumat beragama harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Mengangkat tema “Masyarakat Kohesif melalui Partisipasi Lintas Generasi”, Sinta menilai tema tersebut sangat relevan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang pentingnya saling mengenal di tengah perbedaan.

Ia juga kembali mengingat pesan mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bahwa esensi kehidupan beragama terletak pada kontribusi nyata bagi sesama.

“Tidak penting apa agamamu atau sukumu, yang terpenting adalah perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan untuk sesama,” ujar Sinta.

Ia berharap semangat kebersamaan yang lahir dari perayaan ini terus menyala dan menjadi energi positif bagi kemajuan bangsa. “Semoga cahaya harapan yang menyala melalui pertemuan ini tidak pernah padam untuk kemajuan bangsa dan negara,” tuturnya.

Sementara itu, cendekiawan Muslim Musdah Mulia memberikan apresiasi kepada Majelis Baha’i Nasional Indonesia atas terselenggaranya acara tersebut. Ia menilai perayaan Hari Raya Ridwan bukan sekadar peringatan keagamaan, tapi juga perayaan kemanusiaan.

“Meski banyak yang hadir bukan penganut Baha’i, acara ini adalah pesta kemanusiaan,” kata Musdah.

Menurutnya, kehidupan beragama di Indonesia harus selalu berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, kerukunan antarumat beragama dapat terus dipertahankan dan diperkuat untuk jangka panjang.

Perayaan Hari Raya Ridwan 183 EB pun menjadi bukti bahwa keberagaman di Indonesia bukanlah penghalang, melainkan fondasi yang kuat untuk membangun masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berkeadaban.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *