Ingetindonesia – Pemandangan tenda berwarna ungu, hijau, dan biru menghiasi hamparan hijau perbukitan Ciseeng, Bogor.
Suasana sejuk dan teduh itu menjadi saksi semangat kebersamaan lintas agama dan keyakinan dalam kegiatan “Penanaman 100.000 Pohon untuk Negeri” yang mengusung tema “Hijaukan Negeri, Tumbuhkan Harmoni, Semai Damai untuk Indonesia.”
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama, perwakilan pemerintah, dan komunitas lintas iman dari berbagai daerah di Indonesia. Acara tersebut menjadi bagian dari gerakan nasional penghijauan yang digagas oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, bekerja sama dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JAI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dan Yayasan Alam Lestari Indonesia (ALAS).
Direktur Pembenihan Tanaman Hutan Kementerian Kehutanan RI, Nurul Iftitah, menyampaikan bahwa kementerian memberikan 100.000 bibit pohon produktif kepada komunitas lintas agama dan keyakinan di seluruh Indonesia. “Hari ini penyerahan simbolis dilakukan di Desa Ciseeng kepada perwakilan JAI dan ICRP sebagai bagian dari gerakan bersama untuk menumbuhkan kesadaran ekologis lintas iman,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ICRP, Ilma Sovri Yanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia yang telah berusia 80 tahun, sekaligus memperingati 100 tahun JAI, 25 tahun ICRP, dan 25 tahun Yayasan ALAS.
“Momentum ini mempersatukan kita semua di Kampung Peace Project, Desa Cibeuteung, Bogor, dalam semangat menjaga bumi dan menanam kebaikan,” ungkap Ilma.
Gerakan penanaman pohon ini akan berlangsung serentak di 100 lokasi di seluruh Indonesia, melibatkan ribuan anggota JAI, komunitas lintas iman, dan masyarakat umum. Penanaman akan berlanjut hingga Desember 2025.
Dalam kesempatan tersebut, JAI juga mengingatkan kembali pesan Hazrat Mirza Masroor Ahmad, pemimpin spiritual Ahmadiyah dunia, yang menyerukan agar setiap anggota menanam minimal dua pohon setiap tahun. Seruan ini sejalan dengan program Kementerian Kehutanan yang mendorong masyarakat menanam hingga 25 pohon sepanjang hidupnya—dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.
“Gerakan ini tidak hanya memperkuat gizi bumi, tetapi juga memperkokoh harmoni antarumat dan kepedulian terhadap perubahan iklim, pemanasan global, serta dampak lingkungan akibat kemajuan zaman,” kata Ilma.












