Seren Taun Cigugur 2026: Merawat Warisan Sunda Wiwitan dan Meneguhkan Persaudaraan dalam Keberagaman

Berita, Edukasi21 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,KUNINGAN – Di kaki Gunung Ciremai yang menjulang megah di timur Tatar Sunda, masyarakat adat Cigugur kembali menggelar Seren Taun, tradisi tahunan yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus perayaan nilai-nilai kehidupan, kebudayaan, dan persaudaraan.

Tahun ini, Seren Taun mengusung tema “Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa”, yang dipilih bertepatan dengan momentum Bulan Pancasila yang diperingati setiap bulan Juni.

banner 336x280

Pancasila adalah prasasti peradaban kita sebagai bangsa. Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi memiliki visi dan misi untuk menyampaikan konteks situasi sosial yang terjadi di masyarakat,” ujar Dewi Kanti di hadapan ribuan warga dan tamu undangan yang memadati kawasan Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan.

Menurut Dewi Kanti, rangkaian kegiatan Seren Taun tahun ini telah berlangsung sejak 3 Juni 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang diwariskan oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusumah Wijayaningrat, pendiri Paseban Tri Panca Tunggal dan tokoh penting dalam sejarah masyarakat adat Cigugur.

Ia menjelaskan bahwa keberlangsungan Seren Taun selama lebih dari satu abad menjadi bukti ketahanan budaya masyarakat adat Cigugur yang mampu bertahan di tengah berbagai perubahan zaman.

Cigugur bukan hanya milik Cigugur, bukan hanya milik Kuningan dan Jawa Barat. Ini adalah persembahan kami untuk bangsa Indonesia, warisan dari para leluhur,” katanya.

Dewi Kanti juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam upaya pemajuan kebudayaan. Kehadiran utusan budaya dari Bali dalam rangkaian Seren Taun dinilai membuka ruang sinergi yang lebih luas antara budaya Bali dan Tatar Sunda sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Warisan Sunda Wiwitan yang Terus Hidup

Seren Taun tidak dapat dipisahkan dari tradisi Sunda Wiwitan, salah satu warisan spiritual tertua masyarakat Sunda yang telah hidup jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu, Buddha, maupun Islam ke tanah Sunda.

Sunda Wiwitan bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, alam semesta, dan para leluhur.

Jejak ajaran tersebut dapat ditemukan dalam berbagai naskah kuno, salah satunya Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang memuat nilai-nilai moral, etika, serta tata kehidupan masyarakat Sunda.

Hingga kini, tradisi Sunda Wiwitan masih hidup di berbagai komunitas adat, seperti Baduy di Kanekes, Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Kampung Naga di Tasikmalaya, dan masyarakat adat AKUR di Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Dari Kepangeranan Gebang hingga Paseban Tri Panca Tunggal

Sejarah masyarakat adat Cigugur berakar pada perjalanan panjang Kepangeranan Gebang di wilayah pesisir Cirebon. Pada masa kolonial, wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

Dari sejarah itulah lahir Pangeran Sadewa Alibasa Kusumah Wijayaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Madrais. Setelah menjalani kehidupan sederhana di Cigugur dan melakukan perjalanan spiritual, ia mendirikan Paseban Tri Panca Tunggal pada tahun 1860 sebagai pusat pendidikan budaya, spiritualitas, dan pelestarian nilai-nilai Sunda.

Selain dikenal sebagai pemimpin adat dan budayawan, Pangeran Madrais juga tercatat sebagai pejuang yang menentang kolonialisme Belanda. Sikap kritisnya terhadap ketidakadilan tergambar dalam pernyataannya yang terkenal:

“Jika mencuri ayam saja dihukum, mengapa mencuri kekayaan bangsa lain tidak dihukum?”

Pemikiran dan perjuangannya terus diwariskan oleh generasi penerus hingga saat ini.

Melanjutkan Jejak Pangeran Djatikusumah

Warisan Pangeran Madrais kemudian diteruskan oleh cucunya, Pangeran Djatikusumah Maniswara Tedjabuana Alibasa Kusumah Wijayaningrat, tokoh adat yang selama puluhan tahun menjadi penjaga tradisi dan kebudayaan Cigugur.

Lahir pada 15 Oktober 1932, Pangeran Djatikusumah dikenal sebagai sosok yang memperkuat pendidikan dan pelestarian budaya melalui Yayasan Pendidikan Tri Mulya yang berdiri sejak 1959.

Di bawah kepemimpinannya, Paseban Tri Panca Tunggal berkembang menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dari latar belakang agama, budaya, dan bangsa yang berbeda.

Pada 16 Mei 2025, Pangeran Djatikusumah wafat pada usia 93 tahun di kediamannya di Paseban Tri Panca Tunggal. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat adat, pegiat budaya, dan berbagai kalangan yang mengenalnya sebagai tokoh toleransi dan penjaga kebhinekaan.

Seren Taun: Syukur, Budaya, dan Harmoni

Secara etimologis, kata seren berarti menyerahkan, sedangkan taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai sebagai penyerahan hasil kerja dan kehidupan dari tahun yang telah berlalu kepada tahun yang akan datang.

Dalam tradisi ini, hasil panen berupa padi disimpan ke dalam leuit atau lumbung adat. Terdapat Leuit Indung sebagai lumbung utama dan Leuit Pangiring sebagai lumbung pendamping. Di dalamnya disimpan Pare Ambu (Padi Ibu) dan Pare Abah (Padi Ayah) yang menjadi simbol kehidupan, keseimbangan, dan sumber benih untuk musim tanam berikutnya.

Tradisi tersebut mencerminkan penghormatan masyarakat Sunda terhadap padi sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dimuliakan.

Menurut berbagai catatan sejarah, Seren Taun telah dikenal sejak masa Kerajaan Sunda dan Pajajaran. Hingga kini, tradisi tersebut tetap lestari dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sunda.

Ruang Kebhinekaan dan Persaudaraan Lintas Iman

Yang membuat Seren Taun Cigugur begitu istimewa bukan hanya kekayaan tradisinya, melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di dalamnya.

Selama puluhan tahun, Seren Taun menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, budaya, suku, dan keyakinan. Masyarakat adat AKUR hidup berdampingan dengan pemeluk Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan berbagai kepercayaan lainnya dalam suasana saling menghormati.

Setiap tahun, tokoh agama, budayawan, akademisi, masyarakat adat, hingga tamu dari berbagai negara hadir dan duduk bersama dalam semangat persaudaraan.

Bagi masyarakat Cigugur, perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih harmonis.

Warisan pemikiran Pangeran Madrais yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama terus hidup hingga hari ini. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari identitas agama atau keyakinannya, melainkan dari kemampuannya menghormati sesama manusia dan menjaga keharmonisan hidup bersama.

Karena itu, Seren Taun bukan hanya perayaan panen masyarakat Sunda, tetapi juga simbol nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Di tengah berbagai tantangan yang kerap menguji persatuan bangsa, Seren Taun menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dibangun di atas rasa hormat, persaudaraan, dan saling pengertian.

Melalui tradisi ini, masyarakat Cigugur menunjukkan bahwa warisan leluhur tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, tetapi juga menjaga hubungan antarmanusia dalam semangat persatuan.

Seren Taun menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya diwariskan melalui upacara dan simbol, tetapi juga melalui nilai-nilai kemanusiaan yang terus hidup dan relevan bagi masa depan Indonesia.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *