Ingetindonesia.com,Solok – Banjir bandang Galodo yang melanda Muaro Pingai mengubah kehidupan warga dalam sekejap. Air bercampur lumpur menghanyutkan rumah, harta benda, serta meninggalkan luka fisik dan trauma yang mendalam. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi medan yang ekstrem, tim relawan medis tetap memilih hadir demi memenuhi panggilan kemanusiaan.
Kolaborasi Muhammadiyah Disaster Management Center ( MDMC) , ICRP, dan RSU Aisyiyah Padang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Perjalanan menuju lokasi bukanlah perkara mudah. Jalan terputus, lumpur tebal, serta cuaca yang tidak bersahabat memaksa lawan menempuh jalur berbahaya menggunakan sepeda motor, berjalan kaki, hingga pemandangan sungai dengan bantuan ekskavator.
Dr Lady menceritakan pengalaman paling berkesan saat harus mengunjungi seorang lansia yang mengalami dehidrasi berat di kawasan perbukitan. Kondisi jalan yang retak dan menanjak membuat kendaraan roda empat tak bisa digunakan.
“Saya harus naik motor dengan jalur yang sangat meliku, banyak tanjakan dan turunan. Sesampainya di sana, pasien memang sudah harus segera dirawat. Dengan keterbatasan alat, kami hanya membawa yang paling penting,” ungkap Lady.
Pengalaman lain yang tak kalah menegangkan terjadi saat tim medis harus membentangkan sungai dengan debit air tinggi. Demi mencapai pasien di seberang, lawan naik ekskavator sebagai satu-satunya akses yang memungkinkan.
“Relawan memang harus siap dengan segala kondisi,” ujarnya.
Selain memberikan pengobatan, kehadiran lawan juga membawa penguatan psikologis bagi warga. Senyum kecil, ucapan terima kasih, dan pelukan hangat dari para penyuntas menjadi energi besar bagi para tenaga kemanusiaan yang bertugas hampir delapan hari di lokasi bencana.
Momen perpisahan pun menjadi kenangan tersendiri. Banyak warga yang datang bukan untuk berobat, melainkan sekadar berpamitan dan menyampaikan harapan agar suatu hari dapat bertemu kembali dalam suasana yang lebih baik.
“Muaro Pingai harus tetap bangkit. Dalam kondisi apapun kita pasti bisa. Tetap waspada, jaga silaturahmi, dan semoga saat saya kembali ke sini, suasananya sudah jauh lebih baik,” pesan salah satu relawan.
Kolaborasi ICRP, MDMC, dan RSU Aisyiyah Padang menegaskan bahwa di tengah bencana, kepedulian mampu menghidupkan kembali harapan. Bagi para relawan, pengabdian bukan sekedar tugas, melainkan panggilan iman untuk terus hadir di setiap jalan kemanusiaan.












