Pendiri Yayasan Harapan Ibu Buka Suara soal 996 Senjata dan Narkoba di Sekolah

Berita, Edukasi1530 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com , JAKARTASalah satu pendiri Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP), Yan Sofyan Syafe’i, buka suara terkait temuan 996 senjata api, narkoba, dan rekaman konten pornografi di sebuah ruangan.

Ruangan tersebut diketahui merupakan ruangan mantan ketua yayasan.

banner 336x280

Yan mengaku sangat sedih dengan temuan tersebut. Ia berharap masalah itu dapat diselesaikan dengan baik.

“Kami selaku pendiri yang mendirikan sekolah ini merasa bersedih sekali dengan adanya hal seperti ini. Tetapi insyaallah, mudah-mudahan semua itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya,” kata Yan kepada wartawan, Minggu (9/8/2026).

Sekolah Berawal dari Pengajian

Yan kemudian menceritakan sejarah berdirinya sekolah tersebut.

Menurut dia, sekolah itu berawal dari kegiatan pengajian. Saat itu, Yan berguru kepada Ustaz Mawardi Labay.

Dari kegiatan tersebut, muncul gagasan untuk mendirikan sekolah. Gagasan itu kemudian dibicarakan bersama Ustaz Mawardi Labay.

Namun, pembangunan sekolah membutuhkan tanah dan biaya. Karena itu, keduanya kemudian menemui Adam Malik.

Saat itu, Adam Malik menjabat sebagai Wakil Presiden.

“Kita ke Pak Adam. Kemudian kita sama-sama ke Pak Adam. Sampai di sana dan diarahkan bahwa ada tanah kami di sana di Kebayoran, katanya di Pondok Pinang. Nah, itu bisa dimanfaatkan,” jelas Yan.

Setelah itu, yayasan mulai didirikan. Sejak awal, yayasan memiliki tujuan yang jelas. Salah satunya adalah mencerdaskan anak bangsa.

Selain itu, yayasan ingin membangun generasi yang memiliki pendidikan dan nilai agama.

“Kami dirikan pada waktu itu visi dan misi yaitu untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” kata Yan.

Sekolah kemudian berkembang secara bertahap. Jumlah siswa juga terus bertambah.

Yan mengatakan jumlah siswa sempat mencapai sekitar 2.500 orang.

Namun, jumlah tersebut kini berkurang. Saat ini, jumlah siswa disebut sekitar 500 orang.

Menurut Yan, penurunan jumlah siswa terjadi setelah banyak sekolah lain berdiri di sekitar wilayah tersebut.

Pendiri Prihatin soal Temuan Senjata

Yan juga menyampaikan keprihatinannya atas temuan senjata di sekolah.

Temuan tersebut mencakup senjata api dan airsoft gun. Selain itu, terdapat pula temuan lain yang menurut Yan tidak sesuai dengan nilai sekolah Islam.

Ia mengaku sedih melihat persoalan tersebut.

Menurutnya, kondisi itu tidak sesuai dengan tujuan awal pendirian sekolah.

“Kami selaku pendiri yang mendirikan sekolah ini merasa bersedih sekali,” ujarnya.

Karena itu, Yan berharap semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik.

Berharap Sekolah Kembali ke Tujuan Awal

Yan ingin sekolah kembali menjalankan tujuan awalnya.

Ia berharap sekolah dapat menjadi tempat untuk membentuk generasi yang baik. Para siswa juga diharapkan memiliki pendidikan dan nilai agama yang kuat.

Menurut Yan, para pendiri sejak awal ingin melahirkan generasi yang saleh dan saleha.

Mereka juga berharap para lulusan dapat menjadi pemimpin bangsa pada masa depan.

“Harapan kami, mudah-mudahan sekolah kita ini dapat kembali sesuai dengan tujuan daripada kami pada waktu itu untuk mendirikannya,” ungkap Yan.

Ia berharap persoalan yang terjadi menjadi momentum untuk melakukan perbaikan.

Dengan demikian, sekolah dapat kembali fokus pada pendidikan. Selain itu, sekolah juga dapat menjalankan visi awal untuk mencerdaskan anak bangsa.

Sejarah Panjang Yayasan

Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang telah melalui perjalanan panjang dalam dunia pendidikan.

Para pendiri berharap lembaga tersebut tetap menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda.

Karena itu, Yan meminta agar persoalan yang muncul saat ini dapat diselesaikan secara baik.

Ia juga berharap sekolah dapat kembali memberikan manfaat bagi siswa, orang tua, dan masyarakat.

Bagi para pendiri, tujuan utama sekolah tetap sama. Tujuan itu adalah membangun generasi yang berpendidikan, beragama, dan mampu memberikan kontribusi bagi bangsa.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *