Ingetidonesia.com,Jakarta- Kabar duka dari Arab Saudi,pangeran Alwaleed bin Khaled bin Thalal meninggal dunia pada Sabtu (19/7/2025) setelah koma selama 20 tahun.
Kabar duka ini disampaikan Pangeran Khaled bin Talal, dikutip dari Gazette.
“Dengan hati yang meyakini kehendak dan ketetapan Allah, dan dengan duka dan kesedihan yang mendalam, kami berduka cita atas putra terkasih kami, Pangeran Al-Waleed bin Khaled bin Talal bin Abdulaziz Al Saud, semoga Allah merahmatinya, yang meninggal dunia hari ini,” tulis ayah yang berduka tersebut dalam bahasa Arab pada X.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, dengan hati yang ridha dan menyenangkan [Nya], dan masuklah ke Surga-Ku… Dengan hati yang meyakini kehendak dan ketetapan Allah, dan dengan duka yang mendalam, kami berduka atas putra kami tercinta,” tulis Pangeran Khaled bin Talal bin Abdulaziz melalui akun X @allah_cure_dede, Minggu (20/7/2025).
Adapun salat jenazah Pangeran Alwaleed dilaksanakan pada Minggu, 20 Juli 2025, setelah salat Ashar di Masjid Imam Turki bin Abdullah di Riyadh. Belasungkawa diterima selama tiga hari, mulai dari tanggal 20 hingga 22 Juli 2025.
Kepergian “Pangeran Tidur” ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan jutaan orang yang selama ini mengikuti kisahnya.
Berita meninggalnya sang pangeran di sebuah fasilitas medis khusus di Arab Saudi memicu belasungkawa yang meluas.
Tagar “Pangeran Tidur” (#SleepingPrince) menjadi tren di media sosial saat ribuan orang berduka atas simbol kesabaran, keimanan, dan kasih sayang seorang ayah.
Kisah ini sangat berkesan, dengan banyak orang tersentuh oleh sosok seorang ayah yang berbakti di samping tempat tidur putranya dari tahun ke tahun.
Kamar rumah sakit sang pangeran menjadi landmark spiritual, sering dikunjungi oleh pengunjung yang memberikan doa dan dukungan.
Kehidupan dan perjuangannya yang panjang tidak hanya mencerminkan tantangan medis tetapi juga semangat kemanusiaan yang abadi dan pengabdian keluarga yang melampaui generasi.
Pangeran Alwaleed bin Khalid bin Talal bin Abdulaziz Al Saud mengalami insiden tragis pada tahun 2005 yang mengubah hidupnya secara drastis. Kecelakaan lalu lintas parah di London menyebabkan cedera otak serius dan pendarahan otak yang mengakibatkannya jatuh ke dalam kondisi koma. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai “Pangeran Tidur” karena kondisi tak sadarkan dirinya yang berkepanjangan.
Selama hampir dua puluh tahun, Pangeran Alwaleed mendapatkan perawatan medis yang sangat intensif. Ia dirawat di Kota Medis Raja Abdulaziz di Riyadh, dengan dukungan penuh dari alat bantu ventilator. Tim medis internasional yang terdiri dari para ahli terbaik juga turut dilibatkan untuk memantau dan memberikan perawatan terbaik bagi kondisinya.
Meskipun sesekali menunjukkan gerakan kecil, yang sempat memberikan secercah harapan bagi keluarganya, kondisi Pangeran Alwaleed tetap tidak berubah. Ia tidak pernah sadarkan diri sepenuhnya, dan perjuangannya melawan koma terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Kisah ini menjadi pengingat akan kerapuhan hidup dan ketidakpastian yang bisa datang kapan saja.












