Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi akibat Gempa M7,7 NTT, 47 Orang Meninggal

Berita, Daerah1484 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,NAGEKEO, NTT — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026), menyebabkan lebih dari 5.000 warga mengungsi. Bencana tersebut juga dilaporkan menewaskan 47 orang dan mengakibatkan kerusakan bangunan dalam skala besar.

Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.

banner 336x280

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan para pengungsi di Sikka tersebar di sejumlah lokasi.

“Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2026).

Sementara itu, Kabupaten Manggarai mencatat 2.078 jiwa yang mengungsi. Sebanyak 500 warga lainnya dilaporkan mengungsi di Kabupaten Nagekeo.

Pengungsian juga terjadi di sejumlah wilayah di luar NTT, termasuk Bima dan Kepulauan Selayar.

Dampak gempa membuat sejumlah pemerintah daerah menetapkan status kedaruratan untuk mempercepat penanganan bencana.

Kabupaten Manggarai menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, terhitung 15 Agustus hingga 13 November 2026. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Nomor 319 Tahun 2026 dan dilanjutkan dengan pembentukan pos komando melalui Keputusan Bupati Nomor 320 Tahun 2026.

Kabupaten Ngada juga menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana sekaligus pembentukan Pos Komando selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.

Rumah Sakit Lapangan Beroperasi

BNPB menyebut tim gabungan bersama BPBD masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi untuk mendata dan memverifikasi dampak gempa.

Untuk mendukung penanganan korban, sebuah rumah sakit lapangan telah didirikan dan mulai beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

“Sementara itu, hingga saat ini, tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih bersiaga menyisir lokasi untuk melakukan pendataan dan verifikasi lanjutan. Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai,” ujar Berton.

Dari sisi akses transportasi, jalur lintas darat Larantuka–Maumere dilaporkan sudah kembali terhubung dan dapat dilalui. Kondisi tersebut diharapkan membantu proses distribusi logistik serta evakuasi warga terdampak.

Namun, akses jalan darat yang menghubungkan Ende–Nagekeo masih terputus akibat gempa. Tim penanganan bencana pun terus berupaya mencari jalur alternatif untuk memastikan distribusi bantuan dan mobilitas petugas tetap berjalan.

BNPB bersama pemerintah daerah dan tim gabungan masih melakukan pendataan di lapangan. Data korban, pengungsi, serta kerusakan bangunan masih berpotensi berubah seiring proses verifikasi dan pemutakhiran informasi.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *