Ingetindonesia.com,Solok – Konferensi Agama dan Perdamaian Indonesia (ICRP) menunjukkan komitmennya untuk terus berdiri bersama di tengah situasi sulit pascabencana banjir bandang (galodo). Melalui payung aksi bantuan ICRP Peduli , organisasi masyarakat sipil ini aktif mengawal fase pemulihan para penyintas banjir bandang di wilayah Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Pada tahap pemulihan kali ini, ICRP tidak hanya menitikberatkan bantuan pada penyediaan kebutuhan material, tetapi juga memusatkan perhatian pada pemulihan luka psikis, khususnya anak-anak, melalui program trauma healing . Langkah tersebut dinilai krusial mengingat dampak psikologis bencana sering luput dari perhatian, padahal berdampak besar terhadap malapetaka hidup para penyuntas, terutama kelompok rentan.
Kepala Program ICRP, Farid Ari Fandi , menjelaskan bahwa pemulihan mental anak-anak menjadi prioritas utama agar trauma akibat bencana tidak berkepanjangan dan menghambat masa depan mereka.
“Pemulihan psikososial anak-anak adalah prioritas kami. Kami ingin memastikan mereka tidak mengalami trauma berkepanjangan, bisa kembali ceria, dan siap melanjutkan aktivitas sekolah seperti biasa,” ujar Farid.
Program pemulihan psikososial ini dilaksanakan secara masif di posko ICRP,Junjung Sirik,Solol. Di Muaro Pingai, kegiatan trauma healing kembali digelar di posko banjir bandang dengan melibatkan tenaga kesehatan serta relawan yang memiliki keahlian di bidang pendampingan anak.
Sebanyak 300 anak terdampak bencana di Muaro Pingai,Saniang Baka mengikuti kegiatan tersebut. Anak-anak diajak bermain, belajar, mendengarkan dongeng, bernyanyi bersama, serta mengikuti gerakan dan lagu dalam suasana yang aman dan menyenangkan. Beragam aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan juga disiapkan untuk membantu anak-anak mengingat kenangan buruk akibat bencana.
Selama kegiatan berlangsung, anak-anak tampak antusias dan aktif berinteraksi dengan lawan. Suasana hangat dan penuh keceriaan membuat mereka ingin melupakan kondisi sulit yang dialami pascabencana, sekaligus membangun kembali rasa aman dan semangat hidup.
Selain program trauma healing, ICRP juga berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumatera Barat untuk membantu pemulihan kebutuhan pendidikan anak-anak terdampak. Kolaborasi ini diwujudkan dengan mengajak anak-anak perlengkapan sekolahnya hayut terbawa banjir untuk berbelanja kebutuhan sekolah, seperti sepatu dan seragam.
Ketua MDMC Sumatera Barat, Fortito, SHI , mengatakan kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya memulihkan kondisi psikologis anak-anak sekaligus memastikan mereka dapat kembali bersekolah.
“Ini adalah anak-anak yang rumahnya hanyut, jebol, dan dihantam air. Semua perlengkapan sekolahnya habis terbawa arus banjir. Hari ini kami membawa anak-anak sambil healing, sambil menghilangkan rasa traumanya, untuk langsung belanja sepatu dan perlengkapan sekolah,” kata Fortito, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, langkah tersebut dilakukan karena anak-anak dijadwalkan kembali masuk sekolah pada Senin (5/1/2026), sementara seluruh seragam dan perlengkapan mereka rusak akibat banjir bandang.
“Alhamdulillah, hari ini amanah dari para dermawan sudah kami sampaikan. Ada sekitar 21 anak yang kami lengkapi kebutuhan sekolahnya. Mudah-mudahan besok anak-anak ini bisa sekolah dengan normal kembali,” ujar Fortito.
Melalui pendekatan pemulihan yang menyentuh aspek psikologis dan pendidikan, ICRP bersama mitra kemanusiaan berharap para pecinta Anak, khususnya anak-anak di Muaro Pingai, dapat bangkit dari trauma bencana dan kembali menata masa depan dengan semangat baru.












