Kebakaran Hutan Kalimantan Meluas, Kualitas Udara Memburuk dan Ganggu Pernapasan

Berita, Daerah1214 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Agustus 2026. Kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan jarak pandang, hingga memicu keluhan gangguan pernapasan.

Kondisi kualitas udara terparah dilaporkan terjadi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada Rabu (19/8/2026), konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori berbahaya atau sangat tidak sehat.

banner 336x280

Angka tersebut jauh melampaui ambang 250,5 mikrogram per meter kubik.

Warga Liang Anggang, Banjarbaru, Windy, mengatakan kabut asap akibat karhutla yang telah berlangsung selama beberapa pekan semakin pekat dalam beberapa hari terakhir.

Asap bahkan mulai masuk ke rumah warga yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

“Bikin pernapasan sesak karena asap juga masuk ke dalam rumah warga yang khususnya dekat dengan kebakaran lahan dan pengendara yang melintas,” kata Windy, Rabu (19/8/2026).

Tebalnya kabut asap juga membuat jarak pandang di sejumlah lokasi hanya sekitar tiga meter. Hingga Rabu sore, kebakaran masih terlihat di beberapa titik di pinggir jalan.

Dampaknya mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru memutuskan mengundur jam masuk sekolah terdampak menjadi pukul 09.00 Wita mulai Kamis (20/8).

Kabut asap juga menyebabkan 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami keterlambatan.

Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah. Kabut asap menyelimuti Palangka Raya sejak Selasa (18/8/2026).

BPBD mencatat 298 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 261,41 hektare sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026.

Dampak kesehatan mulai terlihat. Sebanyak 2.052 warga di Kalimantan Tengah mengalami ISPA dalam satu pekan. Sementara di Palangka Raya, jumlah kasus ISPA dilaporkan mencapai 12.394 kasus.

Data tersebut menunjukkan kabut asap karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi mulai memberikan tekanan terhadap kesehatan masyarakat.

Kotawaringin Barat Dilanda Ratusan Karhutla

Kabupaten Kotawaringin Barat juga menghadapi persoalan serupa.

Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 859,49 hektare dari 189 kejadian. Sebanyak 461 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut.

Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 584,41 hektare.

Dampak kesehatan juga mulai terlihat di sejumlah wilayah kerja puskesmas. Empat wilayah bahkan masuk zona merah kasus ISPA.

Puskesmas Sungai Rangit mencatat 395 kasus, Puskesmas Kumai 193 kasus, Madurejo 183 kasus, dan Karang Mulya 137 kasus pada periode minggu ke-26 hingga minggu ke-30 2026.

Kualitas Udara Pontianak Masuk Kategori Tidak Sehat

Kabut asap juga berdampak terhadap kualitas udara di Kalimantan Barat.

Pada Kamis (20/8/2026) pagi, kualitas udara di Pontianak masuk kategori tidak sehat dengan indeks 191.

Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 112 mikrogram per meter kubik, atau sekitar 22,4 kali standar WHO.

Kabut asap di Pontianak diduga dipengaruhi karhutla di sejumlah wilayah sekitar, seperti Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak.

Kalimantan Barat tercatat memiliki 4.041 titik panas, termasuk 352 titik dengan tingkat tinggi.

Asap Mulai Terasa di Banjarmasin

Kabut asap juga mulai terasa di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Asap tipis terlihat di sejumlah kawasan pada Rabu (19/8/2026).

Asap tersebut diduga merupakan kiriman dari wilayah Kabupaten Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut.

Untuk mengurangi paparan asap, Polsek Banjarmasin Tengah membagikan 500 masker kepada pengendara, pelajar, dan warga pada Kamis (20/8).

Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak.

Kabut asap karhutla menjadi perhatian karena mengandung partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

Dalam konsentrasi tinggi, polutan tersebut dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan membuat pemerintah daerah meningkatkan penanganan kebakaran sekaligus mengantisipasi dampak asap terhadap masyarakat.

Persoalan karhutla kini tidak hanya menjadi ancaman terhadap hutan dan lingkungan. Kualitas udara yang memburuk mulai mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aktivitas sehari-hari masyarakat Kalimantan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *