ICONZ ke-9 Digelar di Jakarta, Dorong Transformasi Global Zakat di Era Digital

Berita293 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com, Jakarta–  Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI siap menggelar penyelenggaraan The 9th International Conference on Zakat (ICONZ) 2025 pada 9–11 Desember 2025 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Forum internasional ini menjadi momentum strategis bagi komunitas zakat dunia untuk merumuskan arah baru transformasi zakat global di tengah meningkatnya inovasi digital serta bertambahnya kebutuhan respon kemanusiaan internasional. Dengan mengangkat tema “Zakat & Philanthropy: Beyond Technology – Designing a Global Transform for Humanity and Shared Prosperity,” ICONZ 2025 menyoroti peran zakat bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi sebagai instrumen global untuk keadilan sosial, solidaritas kemanusiaan, dan pengentasan kemiskinan lintas negara.

banner 336x280

Acara ini akan menghadirkan otoritas zakat internasional, akademisi, peneliti, pemimpin pemerintah, lembaga filantropi global, dan sektor swasta. Rangkaian kegiatan mencakup konferensi ilmiah, high-level dialogue, presentasi makalah, lokakarya internasional, serta peluncuran buku dan inisiatif kolaboratif baru mengenai tata kelola zakat dan filantropi Islam. Penyelenggaraan yang komprehensif ini diharapkan menjadi ruang konsensus global bagi pengembangan standar baru zakat di era digital.

Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan bahwa teknologi seperti kecerdasan buatan, machine learning, dan big data memiliki potensi besar memperkuat efisiensi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran zakat. Namun ia mengingatkan bahwa inovasi digital harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

“Digitalisasi sangat penting, tetapi ruh zakat tetap harus menjadi pusat. Teknologi harus mempercepat pengentasan kemiskinan, memperkuat keadilan, dan meningkatkan layanan bagi mustahik,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa berbagai tantangan global seperti bencana di Indonesia dan krisis kemanusiaan di Palestina menuntut tata kelola zakat yang lebih adaptif.

“Zakat hari ini bukan lagi hanya isu lokal, tetapi telah menjadi instrumen global humanitarian response. ICONZ 2025 adalah ruang penting untuk menyelaraskan langkah antarnegara,” tambahnya.

Dari perspektif penyelenggara, Ketua Panitia ICONZ 2025 dari BAZNAS RI, M. Hasbi Zaenal, Ph.D, menyoroti pentingnya memastikan bahwa penggunaan teknologi harus sejalan dengan etika dan maqashid syariah. “Transformasi digital dalam zakat tidak boleh berhenti pada inovasi teknis. Ia harus dibangun di atas etika, amanah, dan kejelasan maqashid. Teknologi harus memperluas kebermanfaatan, bukan menciptakan jarak baru antara muzakki, amil, dan mustahik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ICONZ 2025 menargetkan terbentuknya konsensus internasional mengenai digital governance zakat yang aman, transparan, dan berkeadilan. “Melalui ICONZ, kita ingin mendorong standar global tata kelola digital zakat yang mampu menjawab tantangan era baru,” kata Hasbi.

Dalam konteks akademik, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai rujukan dunia dalam inovasi tata kelola zakat.

“Indonesia telah menjadi laboratorium besar tata kelola zakat dunia. Melalui ICONZ, kami ingin memperkuat kontribusi akademik dan kebijakan Indonesia bagi arsitektur zakat global, termasuk isu strategis seperti etika AI, digital governance, dan sustainable humanitarian financing,” ujarnya. Ia menyebut bahwa keterlibatan universitas menjadi kunci dalam memperkuat landasan ilmiah dan kebijakan zakat dalam menghadapi era digital.

Ketua Panitia ICONZ 2025 dari FEB UIN Jakarta sekaligus Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Prof. Nur Hidayah, Ph.D, menambahkan bahwa transformasi zakat hanya akan bermakna jika memadukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas Islam. “Integrasi nilai kemanusiaan, etika Islam, dan inovasi digital adalah kunci masa depan filantropi Islam. ICONZ adalah ruang untuk merumuskan masa depan bukan hanya lebih modern, tetapi lebih manusiawi dan berkeadilan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan akademik harus memastikan transformasi zakat tetap inklusif. “Zakat bukan hanya tentang angka, algoritma, dan dashboard. Ia tentang manusia, martabat, dan keberlanjutan. Inilah yang ingin kami tekankan dalam ICONZ 2025,” tambahnya.

Melalui pelaksanaan ICONZ ke-9 ini, BAZNAS RI bersama mitra strategis yang terdiri dari Kementerian Agama RI, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, INDEF, Universitas Tazkia, Universitas Paramadina, KNEKS, IAEI, dan Indiana University memposisikan Indonesia sebagai pusat kolaborasi zakat dunia. Kolaborasi ini menjadi fondasi dalam membangun standar global, memperluas riset, dan memperkuat ekosistem zakat internasional. “Indonesia harus menjadi rujukan dunia dalam inovasi, literasi, dan governance zakat. ICONZ adalah ruang konsensus global untuk memperkuat peran zakat sebagai pilar kesejahteraan dunia,” ujar Ketua BAZNAS RI.

Dengan kehadiran pemimpin zakat dunia, akademisi terkemuka, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara, ICONZ 2025 diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis, model tata kelola yang adaptif, serta langkah-langkah konkret yang relevan untuk era digital dan berbagai tantangan kemanusiaan modern. ICONZ ke-9 menegaskan komitmen Indonesia untuk memimpin transformasi global zakat demi terwujudnya shared prosperity, keadilan sosial, dan kesejahteraan umat manusia.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *