
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (19/6/2026), harga minyak mentah Brent naik 51 sen atau 0,64 persen menjadi US$80,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$1,28 atau 1,7 persen ke level US$77,88 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat mengalami penurunan tajam seiring munculnya optimisme atas kesepakatan gencatan senjata dan proses perdamaian antara AS dan Iran. Bahkan, kedua kontrak minyak acuan dunia itu diperkirakan sempat menuju penurunan mingguan sekitar delapan persen.
Sebelumnya, pasar sempat merespons positif penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sementara antara Presiden AS dan Presiden Iran untuk mengakhiri konflik. Kesepakatan itu membuka peluang kembali normalnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Beberapa kapal tanker, termasuk tiga kapal berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah, berhasil melintasi Selat Hormuz. Perkembangan tersebut sempat mendorong harga minyak turun ke level terendah sejak awal Maret 2026.
Para analis memperkirakan normalisasi jalur pelayaran dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran berpotensi menambah lebih dari 85 juta barel minyak ke pasar global, sehingga meningkatkan pasokan dan menekan harga.
Namun optimisme itu tidak bertahan lama. Situasi berubah setelah Israel meningkatkan operasi militernya di Lebanon, sementara pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai penyelesaian konflik Timur Tengah dilaporkan batal dilaksanakan.
Pembatalan perjalanan Wakil Presiden AS JD Vance untuk menghadiri perundingan turut memperbesar ketidakpastian mengenai masa depan proses perdamaian kedua negara.
Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai pelaku pasar masih menunggu kepastian bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal sebelum memperkirakan penurunan harga minyak yang lebih stabil.
Sementara itu, pendiri perusahaan analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, menilai harga minyak kemungkinan telah mencapai titik terendah dalam jangka pendek dan berpotensi kembali meningkat seiring munculnya keretakan dalam proses perdamaian.
Menurutnya, selama situasi geopolitik di Timur Tengah masih belum menentu, pasar energi global diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif dengan tingkat volatilitas yang tinggi.
Kenaikan harga minyak dunia ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi biaya energi, transportasi, serta inflasi di berbagai negara apabila ketegangan geopolitik terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
















