Gelombang Protes Guncang Iran, Sedikitnya 35 Orang Tewas dan 1.200 Ditahan

Internasional174 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Gelombang demonstrasi yang melanda Iran terus berlanjut dan memicu kekerasan di berbagai wilayah. Kelompok aktivis melaporkan sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditahan dalam aksi protes yang telah berlangsung lebih dari sepekan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Data tersebut disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat. Lembaga itu menyebutkan korban tewas terdiri dari 29 demonstran, empat anak-anak, serta dua anggota aparat keamanan Iran. Protes dilaporkan telah menjalar ke lebih dari 250 lokasi di 27 dari total 31 provinsi di Iran.

banner 336x280

HRANA mengandalkan jaringan aktivis di dalam negeri Iran untuk menghimpun informasi dan dinilai memiliki rekam jejak akurat dalam melaporkan kerusuhan dan gelombang protes sebelumnya.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Fars, yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi Iran, melaporkan bahwa sekitar 250 polisi dan 45 anggota milisi sukarelawan Basij mengalami luka-luka akibat bentrokan selama demonstrasi.

Meningkatnya jumlah korban jiwa turut memicu kekhawatiran akan campur tangan internasional, khususnya dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu memperingatkan Iran bahwa jika pemerintah di Teheran “secara brutal membunuh demonstran damai”, Amerika Serikat “akan datang menyelamatkan mereka”. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pejabat Iran, yang mengancam akan menargetkan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin sensitif setelah militer Amerika Serikat pada Sabtu dilaporkan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Iran. Meski belum jelas bagaimana dan sejauh mana AS akan terlibat dalam krisis Iran, dinamika geopolitik tersebut menambah ketegangan yang menyelimuti kawasan.

Aksi protes kali ini disebut sebagai yang terbesar di Iran sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal dalam tahanan polisi moral, memicu demonstrasi nasional. Namun, intensitas dan skala protes saat ini dinilai masih belum melampaui gelombang kemarahan publik yang terjadi setelah kasus Mahsa Amini.

Iran sendiri dalam beberapa tahun terakhir kerap dilanda protes nasional, dipicu oleh tekanan ekonomi, sanksi internasional, serta situasi politik. Setelah sanksi semakin diperketat dan Iran terdampak konflik 12 hari dengan Israel, nilai mata uang rial anjlok tajam pada Desember lalu hingga mencapai 1,4 juta rial per dolar AS. Tak lama setelah itu, gelombang protes kembali muncul.

Memahami skala sebenarnya dari protes terbaru ini terbilang sulit. Media pemerintah Iran memberikan informasi yang sangat terbatas, sementara video yang beredar di media sosial hanya menampilkan potongan singkat suasana jalanan dan suara tembakan. Jurnalis di Iran juga menghadapi pembatasan ketat, mulai dari kewajiban izin perjalanan hingga risiko intimidasi dan penangkapan oleh aparat.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *