Gelombang Protes Anti-Khamenei Menguat di Iran, Pemerintah Tuding AS dan Israel

Internasional172 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Gelombang protes anti-Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memanas dan meluas hingga Jumat (9/1). Aksi demonstrasi ini dipicu seruan mantan Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, yang mengajak warga turun ke jalan meski pemerintah memberlakukan pemadaman internet dan sambungan telepon internasional.

Sejumlah video pendek yang dibagikan aktivis di media sosial memperlihatkan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah sambil berkumpul di sekitar api unggun, dengan kendaraan terbakar dan puing-puing berserakan di jalanan Teheran serta beberapa kota lain. Rekaman tersebut beredar luas meski akses komunikasi di dalam negeri dibatasi ketat.

banner 336x280

Media pemerintah Iran akhirnya angkat bicara pada Jumat pagi. Dalam laporannya, otoritas menuding aksi kekerasan dan pembakaran dilakukan oleh “agen teroris” yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Media negara juga mengakui adanya korban jiwa dalam kerusuhan tersebut, meski tidak merinci jumlah maupun identitas korban.

Akibat pemadaman komunikasi, skala penuh demonstrasi sulit dipastikan. Namun, aksi ini menandai eskalasi terbaru dari gelombang protes yang awalnya dipicu oleh kondisi ekonomi Iran yang memburuk, dan kini berkembang menjadi tantangan paling serius terhadap pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir. Protes dilaporkan mulai meningkat sejak 28 Desember lalu.

Demonstrasi juga diwarnai seruan dukungan terhadap monarki dan Shah Iran, sesuatu yang di masa lalu bisa berujung hukuman mati. Hal ini menunjukkan besarnya kemarahan publik terhadap pemerintahan teokratis saat ini.

Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 42 orang tewas dalam kekerasan terkait demonstrasi, sementara lebih dari 2.270 orang ditahan aparat keamanan.

Reza Pahlavi kembali menyerukan aksi lanjutan pada pukul 20.00 waktu setempat pada Jumat malam. Menurut Holly Dagres, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy, seruan Pahlavi menjadi titik balik yang mendorong meningkatnya partisipasi publik dalam protes.

“Aktivitas di media sosial menunjukkan bahwa warga Iran merespons serius seruan tersebut untuk turun ke jalan demi menggulingkan Republik Islam,” ujarnya. Ia juga menilai pemadaman internet bertujuan menutup informasi ke dunia luar, namun berpotensi memberi ruang bagi aparat keamanan untuk bertindak lebih represif terhadap para demonstran.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *