Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, PVMBG Ungkap Penyebabnya

Berita201 Views
banner 468x60

Jakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan enam gunung api di Indonesia yang meletus secara bersamaan pada 31 Agustus 2026 tidak saling memicu .

PVMBG menyebut letusan tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara mandiri di masing-masing gunung api. Tidak ditemukan bukti adanya satu proses geologi yang menyebabkan keenam gunung api tersebut meletus pada waktu yang sama.

banner 336x280

Enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara .

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) . Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif dan memungkinkan beberapa gunung mengalami letusan pada hari yang sama.

Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda, kata Rita, melansir Antara, Kamis (3/9/2026).

“Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh letusan tersebut secara bersamaan pada tanggal 31 Agustus,” sambungnya.

Status Gunung Sinabung Naik Menjadi Siaga

Fenomena letusan bersamaan juga diikuti dengan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB.

Kenaikan status dilakukan setelah Gunung Sinabung menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak .

PVMBG meminta masyarakat mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak memasuki zona bahaya Gunung Sinabung.

Masyarakat diminta mengosongkan area dengan radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung serta radius 6 kilometer di sektor selatan-timur .

Warga juga diminta mewaspadai potensi lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Sinabung.

Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga .

Status tersebut berlaku sejak tanggal 2 Juli 2026. Pada tanggal 31 Agustus 2026, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai 200 meter di atas puncak.

PVMBG juga menyampaikan kekhawatiran masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung mengenai kemungkinan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik karena letusan Gunung Anak Krakatau tidak secara otomatis menyebabkan tsunami.

Gempa Bumi Tidak Otomatis Picu Erupsi

Rita juga menjelaskan mengenai anggapan bahwa gempa bumi dapat langsung memicu letusan gunung api.

Menurutnya, gempa tektonik tidak otomatis menyebabkan gunung api meletus . Keterkaitan tersebut harus dibuktikan melalui data pemantauan aktivitas internal gunung.

Beberapa indikator yang diperhatikan antara lain peningkatan kegempaan dalam, perubahan atau berhentinya tubuh gunung, perubahan suhu, serta perubahan pelepasan gas vulkanik.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak menanyakan setiap gempa bumi dengan letusan gunung api tanpa adanya bukti dari hasil pemantauan PVMBG.

PVMBG terus memantau aktivitas gunung api di Indonesia dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi serta rekomendasi resmi untuk menghindari wilayah yang berpotensi terdampak letusan.

 

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *