26 Tahun ICRP, Menjaga Kerukunan sebagai DNA Bangsa Indonesia

Berita, Edukasi287 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) resmi meluncurkan ICRP TV bertepatan dengan perayaan 26 tahun perjalanan organisasi, sebagai langkah memperkuat penyebaran nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kebinekaan melalui media digital. Peresmian dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum ICRP, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., melalui penandatanganan prasasti dan pemotongan pita.

Mengusung tema “Merawat Keberagaman, Mewariskan Peradaban”, peringatan 26 tahun ICRP dihadiri para tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, akademisi, komunitas adat, mitra pembangunan, serta organisasi keagamaan dari berbagai latar belakang.

banner 336x280

Dalam dialog perdana yang disiarkan langsung melalui ICRP TV, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa usia ke-26 merupakan fase kedewasaan organisasi. Menurutnya, ICRP telah membuktikan eksistensinya sebagai salah satu organisasi lintas iman yang tetap konsisten merawat kerukunan di tengah berbagai tantangan kehidupan kebangsaan.

“Kerukunan adalah DNA bangsa Indonesia. Kita mewarisi nilai-nilai hidup rukun dari para pendiri bangsa. Tugas kita bukan sekadar mempertahankannya, tetapi memperkuatnya melalui program-program nyata,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menegaskan bahwa keberagaman Indonesia merupakan modal sosial, spiritual, bahkan politik yang harus dikelola menjadi kekuatan untuk memajukan bangsa. Indonesia, katanya, memiliki ratusan bahasa daerah, berbagai agama, kepercayaan, dan budaya yang menjadikan bangsa ini unik di dunia.

Pendidikan Inklusif untuk Semua Anak Indonesia

Disisi lain, sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa visi ICRP memiliki titik temu yang kuat dengan kebijakan pendidikan nasional.

Ia mengatakan sekolah harus menjadi meeting point dan melting point, tempat anak-anak belajar hidup bersama dalam keberagaman sejak usia dini.

“Kami mengembangkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Persatuan tidak berarti penyeragaman, tetapi kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan,” katanya.

Abdul Mu’ti juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap sekitar 4,2 juta anak Indonesia yang putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan. Untuk itu, pemerintah memperkuat jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal, termasuk melalui pembentukan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal serta pengembangan berbagai model layanan pendidikan seperti pendidikan kesetaraan, pembelajaran jarak jauh, sekolah satu atap, komunitas belajar, homeschooling, hingga sekolah terbuka.

Ia mengajak ICRP menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam pengembangan rumah belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), serta gerakan relawan mengajar bagi anak-anak yang belum terjangkau pendidikan formal.

Musdah Mulia: ICRP Lahir untuk Menjaga Hak Semua Warga Negara

Pendiri ICRP, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, mengenang perjalanan panjang lahirnya organisasi tersebut sejak era Orde Baru hingga resmi didirikan pada tahun 2000 bersama Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Johan Effendi, dan para tokoh lintas agama.

Menurutnya, ICRP dibangun sebagai “The House of Peace”, rumah bersama bagi siapa pun yang memiliki komitmen membangun perdamaian tanpa memandang agama maupun kepercayaannya.

“Tujuan besar ICRP adalah memastikan setiap warga negara memperoleh hak kebebasan beragama dan berkepercayaan secara setara. Tidak boleh ada diskriminasi, eksploitasi, apalagi kekerasan atas nama agama,” tegas Musdah.

Ia menambahkan bahwa pendidikan agama harus lebih menekankan pembentukan karakter, kejujuran, empati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama daripada sekadar hafalan simbol-simbol keagamaan.

Menurut Musdah, pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini agar melahirkan generasi yang mencintai keberagaman sekaligus memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan dan lingkungan.

HUT ICRP ini juga bertepatan dengan peresmian Kanal Youtube digital ICRP TV, Peresmian ICRP TV menjadi salah satu tonggak baru perjalanan organisasi dalam memasuki era digital.

Abdul Mu’ti berharap platform tersebut menjadi media edukasi yang menghadirkan praktik-praktik baik kehidupan lintas agama, memperluas ruang dialog, serta memberi kesempatan lebih besar kepada generasi muda untuk menjadi penyebar nilai-nilai perdamaian.

Menurutnya, ICRP TV merupakan jawaban terhadap derasnya arus informasi digital yang sering diwarnai ujaran kebencian.

“ICRP TV harus menjadi ruang pencerahan tentang kerukunan, perdamaian, dan praktik baik hidup bersama. Jangan hanya menampilkan tokoh-tokoh senior, tetapi juga memberi ruang kepada generasi muda untuk berbagi pengalaman hidup rukun dalam keberagaman,” ujarnya.

Musdah Mulia menambahkan bahwa konten ICRP TV perlu berfokus pada edukasi mengenai keberagaman sebagai identitas bangsa Indonesia serta memperkuat kesadaran publik bahwa seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa diskriminasi.

Menutup dialog, Abdul Mu’ti mengajak seluruh elemen bangsa terus membangun kerukunan sebagai fondasi kemajuan Indonesia.

“Melalui ICRP mari kita jalin kerukunan yang tulus untuk persatuan dan kemajuan bangsa,” pesannya.

Selama 26 tahun, ICRP telah menjadi ruang dialog lintas agama, keyakinan, budaya, dan komunitas yang memperjuangkan kebebasan beragama, keadilan sosial, serta budaya damai. Dengan hadirnya ICRP TV, organisasi ini berharap pesan-pesan toleransi dan kemanusiaan dapat menjangkau generasi yang lebih luas melalui berbagai platform digital, sekaligus memperkuat estafet perdamaian menuju Indonesia yang rukun, adil, dan bermartabat.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *