116 Orang Tewas Dalam Gelombang Protes Nasional di Iran

Internasional156 Views

Ingetindonesia.com,Jakarta – Situasi di Iran semakin memanas setelah pemerintah mengisyaratkan penindakan yang lebih keras terhadap gelombang protes nasional yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir.

Sedikitnya 116 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 2.600 orang ditahan, di tengah peringatan keras pemerintah yang mengancam para demonstran dengan hukuman mati.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, yang menyebut seluruh peserta aksi protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan”. Dalam hukum Islam yang berlaku di Iran, tuduhan tersebut merupakan pelanggaran berat yang dapat berujung pada hukuman mati, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Aksi protes tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi telah menyebar ke berbagai kota di Iran. Bloomberg melaporkan korban jiwa jatuh di sejumlah provinsi, termasuk Chaharmahal dan Bakhtiari, Ilam, Kermanshah, dan Fars. Di Teheran, beberapa demonstran juga dilaporkan tewas. Protes di ibu kota awalnya dipicu oleh krisis mata uang dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum meluas menjadi gerakan penentangan terhadap pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban tewas. Namun, Associated Press (AP) mengutip laporan lembaga hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat yang menyebut setidaknya 116 orang telah meninggal dunia sejak aksi protes dimulai pada 28 Desember lalu. Situasi di lapangan sulit dipastikan karena pemutusan akses internet yang diberlakukan pemerintah Iran, sehingga warga terputus dari layanan daring internasional.

Di tengah eskalasi ini, perhatian internasional turut meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu rakyat Iran. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menulis bahwa Iran tengah melihat peluang kebebasan “seperti belum pernah sebelumnya”, dan Amerika Serikat siap memberikan bantuan. Pernyataan tersebut muncul setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuduh Trump memiliki “tangan yang berlumuran darah” rakyat Iran.

Pemadaman internet yang telah berlangsung hampir tiga hari membuat komunikasi warga dengan dunia luar semakin terbatas. Meski beberapa media milik negara masih dapat beroperasi, kondisi ini dinilai menghambat upaya pemantauan independen terhadap perkembangan situasi di dalam negeri.

Gelombang protes disebut semakin intens setelah Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi yang kini hidup di pengasingan, menyerukan masyarakat Iran untuk turun ke jalan dan merebut ruang-ruang publik. Dalam sebuah pesan video di media sosial, ia menyatakan tujuan gerakan tidak lagi sekadar demonstrasi, melainkan menguasai dan mempertahankan pusat-pusat kota.