Wamendagri Bima Arya: Penguatan Karakter Berbasis Budaya Kunci Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

Generasi muda didorong memiliki wawasan global tanpa meninggalkan nilai budaya, moral, dan identitas kebangsaan menuju Indonesia Emas 2045.

Berita170 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa penguatan karakter generasi muda melalui penanaman nilai-nilai budaya, moral, dan kebangsaan menjadi fondasi utama dalam menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh karakter yang kuat dan berintegritas.

“Penting untuk diingat bahwa peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter. Karena itu, tugas kita hari ini adalah fokus membangun karakter dan mengusung kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” ujar Bima Arya saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (13/6/2026).

banner 336x280

Bima menyoroti tantangan pembentukan karakter generasi muda yang semakin kompleks di era digital. Kehadiran media sosial memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, namun tidak selalu disertai dengan proses verifikasi yang memadai. Kondisi ini, menurutnya, menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, etika, dan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar.

“Generasi muda harus mampu menyaring informasi dengan baik dan tetap berpegang pada kebenaran. Kemampuan intelektual saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan karakter dan integritas,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan formal dan peningkatan kompetensi harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kombinasi antara kecerdasan, moralitas, dan integritas diyakini mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjalankan amanah publik.

Dalam kesempatan tersebut, Bima juga mengajak generasi muda untuk memiliki cara pandang global tanpa melupakan akar budaya dan identitas kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai budaya lokal justru dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi dinamika dunia yang semakin terhubung.

“Melayu itu kosmopolitan. Menjejak bumi Melayu, berpijak di bumi Nusantara, dan menatap dunia. Itulah para founding fathers kita. Mereka berangkat dari budaya lokal, berpikir dalam bingkai nasional, dan berkiprah di tingkat global,” ujarnya.

Bima menambahkan bahwa tradisi intelektual Melayu telah melahirkan banyak tokoh besar yang memberikan kontribusi penting bagi perjalanan bangsa, di antaranya Raja Ali Haji dan Buya Hamka. Pemikiran, karya, dan keteladanan mereka dinilai masih sangat relevan untuk dijadikan inspirasi dalam membangun karakter generasi muda di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Karena itu, ia berharap Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) dapat menjadi ruang yang aktif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, etika, dan kebangsaan melalui berbagai kegiatan edukasi, kajian pemikiran, serta pengembangan sumber daya manusia.

Menurut Bima, upaya tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. Dengan karakter yang kuat dan berlandaskan nilai budaya, generasi muda diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan global sekaligus memanfaatkan peluang menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

“Karakter, integritas, dan kecerdasan harus berjalan bersama. Dengan itulah kita dapat menyiapkan generasi penerus yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaya saing, dan tetap berakar pada jati dirinya,” pungkasnya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *