Purbaya Optimis Indonesia Sudah Bisa Terlepas dari Kutukan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Berita, Ekonomi1085 Views

Ingetindonesia.com,JAKARTA – Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 sebagai titik balik penting bagi perekonomian nasional. Capaian ini dinilai menjadi sinyal bahwa Indonesia mulai keluar dari fase pertumbuhan stagnan di kisaran 5 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, di tengah tekanan global yang masih berlangsung, pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia sekaligus membuka peluang untuk akselerasi yang lebih tinggi.

“Ini prestasi yang luar biasa, di tengah gejolak dan tekanan perekonomian global yang sangat tidak menentu, kita masih bisa tumbuh 5,61 persen. Dibandingkan tahun lalu yang 5,39 persen, jelas kita mulai bergerak lebih cepat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (5/5/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan global masih membayangi. Untuk itu, pemerintah akan memperkuat sektor domestik serta meningkatkan daya saing pelaku usaha, khususnya yang berorientasi ekspor.

“Kita harus memastikan domestik tumbuh dengan baik, dan perusahaan yang berorientasi ekspor akan kita dukung agar lebih kompetitif di pasar global,” jelasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan 5,61 persen dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun dan harga konstan Rp3.447,7 triliun.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut, angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 4,87 persen secara tahunan (year on year/YoY).

“Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 bila dibandingkan triwulan I 2025 atau secara year on year (YoY) tumbuh 5,61 persen,” ujar Amalia, Selasa (5/5/2026).

Namun, secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), perekonomian Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen.

Di tingkat global, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada tahun 2026, sementara negara berkembang diperkirakan tumbuh 3,9 persen. Inflasi di negara berkembang juga masih relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

BPS juga mencatat dinamika ekonomi sejumlah mitra dagang utama Indonesia. Tiongkok dan Amerika Serikat menunjukkan penguatan dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam mengalami perlambatan secara kuartalan, meski tetap tumbuh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah menegaskan akan menyiapkan berbagai langkah jangka pendek untuk menjaga momentum pertumbuhan, dengan target mendorong perekonomian nasional keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen menuju tingkat yang lebih tinggi.