Polri Perkuat Kolaborasi Internasional Tangani Kejahatan Digital terhadap Anak

Berita449 Views

Ingetindonesia.com,Batam — Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dittipid PPA/PPO) Bareskrim Polri terus memperkuat kerja sama lintas negara untuk menghadapi kejahatan berbasis digital terhadap anak. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Polri dalam menciptakan ruang daring yang aman, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

Direktur PPA dan PPO Brigjen Pol. Nurul Azizah mengungkapkan, pihaknya baru saja menghadiri pertemuan strategis di Filipina dan Thailand guna membangun sinergi dengan lembaga-lembaga internasional yang menangani kejahatan siber terhadap anak.

“Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan kerja, tetapi menjadi tonggak penting dalam memperkuat jejaring dan sinergi internasional,” ujar Nurul dalam Rapat Kerja Teknis Ditreskrimum Polda Kepri di Batam, Rabu (23/7).

Dalam kunjungannya ke Philippine Internet Crimes Against Children Center (PICACC) di Quezon City, Filipina (15/7), dan Thailand Internet Crimes Against Children Centre (TICACC) di Bangkok (17/7), Nurul menekankan pentingnya kolaborasi regional dalam menangani eksploitasi seksual anak di dunia maya.

“Indonesia dan Filipina memiliki karakter sosial dan budaya yang mirip, sehingga faktor pemicu kejahatan seksual anak secara daring juga tidak jauh berbeda,” ujarnya. Ia menyebut faktor-faktor seperti kemiskinan, lemahnya pengawasan keluarga, dan akses teknologi tanpa edukasi turut berperan dalam meningkatnya kasus eksploitasi anak.

Dalam forum tersebut, Polri juga memperkenalkan program “Berani Bicara Selamatkan Bersama (Rise and Speak)” yang bertujuan mendorong korban dan saksi untuk berani melaporkan tindak kekerasan seksual dan eksploitasi.

Nurul menambahkan, kerja sama dengan PICACC—yang merupakan gugus tugas internasional beranggotakan Kepolisian Nasional Filipina, Biro Investigasi Nasional Filipina, Kepolisian Federal Australia, Badan Kejahatan Nasional Inggris, International Justice Mission, dan Kepolisian Nasional Belanda—merupakan bentuk sinergi nyata melampaui batas negara.

Sementara itu, pertemuan di Thailand menjadi kesempatan penting untuk belajar dari pengalaman TICACC yang berhasil menyelamatkan ratusan anak dari eksploitasi daring. “Pengalaman TICACC menjadi pembelajaran berharga dalam memperkuat strategi penanganan kejahatan serupa di Indonesia,” kata Nurul.

Sejak pembentukan Dittipid PPA dan PPO pada Oktober 2024, Polri semakin fokus menangani kekerasan terhadap perempuan, anak, kelompok rentan, serta tindak pidana perdagangan orang dan kekerasan seksual berbasis elektronik. Polri juga telah memblokir lebih dari 1.934 konten pornografi anak secara daring melalui Satgas Pornografi Anak Online sejak Mei 2024.

“Kami berharap kunjungan ini menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang antara Polri dan mitra internasional seperti TICACC, demi melindungi anak-anak dari ancaman eksploitasi seksual di ruang digital,” pungkas Nurul.