Personel TNI Penjaga Perdamaian Gugur di Lebanon, PBB Kecam Keras Serangan

Internasional170 Views

Ingetindonesia.com,Jakarta — Seorang personel penjaga perdamaian asal Indonesia gugur setelah sebuah proyektil meledak di dekat posisi pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan yang turut mengancam keselamatan misi internasional.

Prajurit TNI yang tergabung dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) dilaporkan berada di pos dekat Adchit Al Qusayr saat ledakan terjadi. Selain satu jiwa korban, seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Pihak UNIFIL menyatakan hingga kini belum dapat asal proyek tersebut dan telah meluncurkan penyelidikan untuk mengungkap detail kejadian.

“Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawanya saat mencapai tujuan perdamaian,” demikian pernyataan resmi UNIFIL, Senin (30/3/2026).

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras kejadian tersebut. Ia menilai kejadian ini menjadi bagian dari meningkatnya risiko yang mengancam pasukan perdamaian di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menambahkan, kejadian tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kejadian yang membahayakan keselamatan personel PBB dalam beberapa waktu terakhir.

“Ini adalah salah satu dari sejumlah kejadian yang membahayakan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian, termasuk selama 48 jam terakhir,” ujar Dujarric.

PBB juga menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, bahkan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

“Harus ada tanggung jawab,” tegas pernyataan tersebut.

Guterres juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan pemerintah Indonesia, serta mendoakan pemulihan bagi personel yang terluka. Ia juga menekankan pentingnya menjamin keselamatan dan kebebasan bergerak pasukan UNIFIL di lapangan.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengumumkan gugurnya satu personel TNI serta tiga lainnya yang mengalami luka dalam kejadian tersebut.

“Serangan senjata tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026,” tulis Kemlu RI.

Indonesia mengecam keras serangan tersebut dan mendesak dilakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan. Pemerintah juga menyatakan tengah bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan proses pemakaman pemula berjalan cepat serta memberikan perawatan terbaik bagi korban luka.

“Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada personel yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya demi perdamaian dunia,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Indonesia juga kembali mengundang seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menghentikan kekerasan, menghormati keselamatan Lebanon, serta mengedepankan dialog guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Di tengah situasi tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut melaporkan jatuhnya korban dari kalangan tenaga medis. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut seorang tenaga kesehatan tewas dalam serangan terhadap ambulans di kota Bint Jbeil.

“Serangan terhadap fasilitas kesehatan harus segera dihentikan. Ini tidak boleh menjadi hal yang normal,” tegas Tedros.

Data WHO mencatat sedikitnya 51 tenaga kesehatan di Lebanon telah terbunuh sejak awal Maret, menandakan semakin buruknya dampak konflik terhadap warga sipil dan layanan kemanusiaan.