Kartini dan Beasiswa yang Tak Pernah Ia Ambil

Edukasi81 Views

Ingetindonesia.com,Jepara- Di balik kisah perjuangan emansipasi perempuan yang melekat pada sosok Raden Ajeng Kartini, tersimpan cerita lain yang jarang terangkat ke permukaan. Sebuah keputusan besar yang diambilnya menunjukkan sisi kehilangan yang melampaui kepentingan pribadi: melepaskan beasiswa ke Belanda demi orang lain.

Kartini yang lahir dan tumbuh di lingkungan priyayi Jepara dikenal sebagai sosok perempuan terdidik pada masanya. Ia sempat mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS) dan menguasai bahasa Belanda. Melalui percakapan dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, seperti Rosa Abendanon, Kartini terus mengasah pemikiran kritisnya tentang pendidikan dan peran perempuan.

Namun, adat membatasi langkahnya. Pada usia 12 tahun, Kartini harus menjalani masa pingitan, berhenti pendidikan formalnya. Meski begitu, semangat belajarnya tak pernah padam. Ia bercita-cita melanjutkan studi ke Belanda demi memperjuangkan nasib perempuan pribumi.

Kesempatan itu datang ketika pemerintah Hindia Belanda, melalui Direktur Departemen Pendidikan JH Abendanon, memberikan beasiswa sebesar 4.800 gulden. Beasiswa tersebut menjadi pintu menuju impian yang selama ini ia dambakan.

Namun di tengah harapan itu, Kartini justru mengambil keputusan tak biasa. Ia meminta agar beasiswa tersebut diberikan kepada seorang pemuda cerdas asal Riau bernama Salim, yang kemudian dikenal sebagai Haji Agus Salim.

Kartini tersentuh oleh kisah Salim, lulusan terbaik HBS yang berjuang keras untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Salim bahkan rela bekerja sebagai kapal kelasi demi menggapai mimpinya menjadi dokter.

Dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartini menuliskan permohonan agar beasiswa tersebut dialihkan. Ia menilai Salim lebih membutuhkan kesempatan itu dan akan memberikan manfaat yang lebih besar.

Namun, niat mulia tersebut tidak terwujud. Agus Salim menolak tawaran itu dengan alasan prinsip. Ia merasa bantuan tersebut bukan bentuk pengakuan murni atas prestasinya, melainkan hasil rekomendasi pihak lain.

“Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran Kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak,” ujar Salim kala itu.

Penolakan tersebut mengubah jalan hidup keduanya. Agus Salim tidak melanjutkan pendidikan ke Belanda, namun kelak dikenal sebagai salah satu diplomat ulung Indonesia dan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan.

Sementara itu, Kartini menjalani takdirnya. Pada tahun 1903, ia menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Meski belum pernah menginjakkan kaki di Belanda, Kartini tetap berkontribusi dengan mendirikan sekolah perempuan di Rembang.

Kartini wafat pada usia 25 tahun, tak lama setelah melahirkan putranya, Soesalit. Meski hidupnya singkat, warisan pemikiran dan pengorbanannya tetap abadi, menjadi inspirasi bagi perjuangan pendidikan dan kesejahteraan hingga kini.