ICRP Dorong Gerakan Kampung Ramah Anak Saat Liburan, Kolaborasi Polsek Kembangan dan Warga Jadi Model Perlindungan Anak

banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mendorong lahirnya Gerakan Kampung Ramah Anak Saat Liburan sebagai upaya memperkuat perlindungan anak selama masa liburan sekolah. Gagasan tersebut muncul dari kolaborasi Polsek Kembangan bersama warga RW 004 Kampung Salo, Kelurahan Kembangan Utara, Jakarta Barat, yang menggelar Lomba Mewarnai Anak dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-80.

Kegiatan yang diikuti sekitar 60 anak usia TK dan SD itu dinilai menjadi contoh nyata bagaimana lingkungan masyarakat dapat menghadirkan ruang bermain yang aman, edukatif, dan menyenangkan bagi anak-anak. Selain lomba mewarnai, anak-anak juga menikmati pertunjukan sulap, permainan interaktif, serta berbagai hadiah yang membuat suasana liburan semakin meriah.

banner 336x280

Direktur Eksekutif ICRP, Ilma Sovri Yanti, mengapresiasi inisiatif Polsek Kembangan dan masyarakat Kampung Salo yang memilih mengisi masa liburan sekolah dengan kegiatan ramah anak.

“Kami mengapresiasi inisiatif Polsek Kembangan bersama masyarakat Kampung Salo yang memilih mengisi liburan sekolah dengan kegiatan ramah anak. Ini bukan sekadar lomba mewarnai, tetapi bentuk nyata perlindungan anak melalui ruang bermain yang aman, menyenangkan, dan mudah dijangkau,” ujar Ilma.

Menurutnya, berbagai peristiwa yang menimpa anak selama masa liburan menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus dimulai sejak awal masa liburan, bukan setelah terjadi musibah. Karena itu, setiap kampung memiliki potensi menjadi pusat aktivitas positif bagi anak-anak.

Ia menjelaskan, berbagai fasilitas yang sudah tersedia di lingkungan masyarakat, seperti balai warga, rumah ibadah, sekolah, RPTRA, perpustakaan, lapangan, hingga halaman rumah warga, dapat dihidupkan menjadi ruang belajar dan bermain melalui kegiatan seni, olahraga, literasi, permainan tradisional, sains, maupun aktivitas kreatif lainnya.

ICRP juga mengusulkan agar Gerakan Kampung Ramah Anak Saat Liburan melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, sekolah, karang taruna, organisasi keagamaan, komunitas, dunia usaha, hingga para relawan.

“Perlindungan anak adalah gerakan lintas sektor. Liburan sekolah harus dipandang sebagai musim perlindungan anak. Semakin banyak kegiatan positif yang kita hadirkan, semakin kecil kemungkinan anak mencari tempat bermain yang membahayakan,” tegas Ilma.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Kembangan AKP Rahmad Kurniantoro mengatakan peringatan HUT Bhayangkara ke-80 menjadi momentum bagi Polri untuk semakin dekat dengan masyarakat melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan anak-anak.

“Ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda di masa liburan. Di tengah Kampung Salo yang padat dengan segala aktivitasnya, anak-anak membutuhkan ruang bermain yang aman dan tertib,” kata Rahmad.

Menurutnya, tema “80 Tahun Polri Mengabdi untuk Masyarakat” tidak hanya diwujudkan melalui penegakan hukum, tetapi juga dengan menghadirkan rasa aman sejak lingkungan terkecil.

“Masa liburan sekolah merupakan waktu yang membahagiakan bagi anak-anak, namun juga memiliki berbagai potensi risiko. Karena itu kami ingin menghadirkan pilihan kegiatan yang positif agar anak-anak dapat bermain, belajar, dan berkreasi di tempat yang aman,” ujarnya.

Rahmad menjelaskan, dipilihnya Kampung Salo sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk apresiasi terhadap semangat gotong royong masyarakat.

“Kami mengajak masyarakat menjadi bagian dari perayaan HUT Bhayangkara. Justru di tengah kampung padat, masyarakat menunjukkan kepedulian luar biasa dengan menyediakan tempat, bergotong royong, dan mendukung anak-anak. Inilah wajah Polri Presisi yang kami harapkan, yaitu bekerja bersama masyarakat,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi lingkungan lain.

“Kalau setiap kelurahan memiliki satu kegiatan positif selama liburan sekolah, maka semakin banyak anak yang terlindungi dari berbagai risiko. Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Keselamatan anak adalah tanggung jawab kita bersama,” tambah Rahmad.

Tokoh Peduli Anak Indonesia, Henny Adi Hermanoe, menilai kolaborasi antara kepolisian dan masyarakat di Kampung Salo merupakan contoh sederhana namun berdampak besar dalam menghadirkan ruang aman bagi anak.

Menurutnya, menyediakan alternatif kegiatan yang positif jauh lebih efektif dibandingkan hanya melarang anak bermain di lokasi yang berbahaya.

Senada dengan itu, Ketua RW 004 Kampung Salo, Suparmo, mengungkapkan keberhasilan kegiatan tersebut lahir dari semangat gotong royong warga yang secara sukarela menyediakan pendopo rumah sebagai lokasi acara.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi tradisi tahunan sekaligus menginspirasi kampung-kampung lain untuk menghadirkan ruang bermain yang aman selama masa liburan sekolah.

Melalui kolaborasi tersebut, ICRP menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Kampung yang mampu menyediakan ruang bermain dan belajar yang aman selama liburan diyakini dapat menjadi fondasi lahirnya lingkungan yang lebih ramah anak sekaligus memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat.

Kolaborasi antara Polsek Kembangan dan warga Kampung Salo pun dinilai menjadi model perlindungan anak berbasis komunitas yang layak direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari gerakan bersama menciptakan liburan yang aman, sehat, dan bermakna bagi anak-anak Indonesia.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *