Ingetindonesia.com,Solok- Bencana banjir bandang atau galodo yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan ruang perenungan yang dalam bagi masyarakat. Di tengah suasana pemulihan pasca-bencana itu, khutbah Jumat di Masjid Al Kautsar, Muaro Pingai, Junjung Sirih, Kabupaten Solok, Jumat (2/1/2026), menjadi ruang refleksi spiritual dan sosial bagi ratusan jamaah yang hadir.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbar, Fortito, SHI, mengajak jamaah memandang bencana tidak hanya sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai pesan kehidupan yang mengingatkan manusia akan keterbatasan umur dan pentingnya memperbaiki hubungan dengan Tuhan serta sesama. Menurut Fortito, galodo adalah penanda bahwa hidup dapat berubah dalam sekejap, dan kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Hal ini disampaikan Tito saat kutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar Junjung Sirih Solok.
Dalam khutbahnya, Fortito mengajak jamaah melakukan muhasabah diri melalui ilustrasi sederhana tentang apa yang ia sebut sebagai “matematika umur”. Ia menyebutkan, seorang muslim yang berusia 40 tahun sejatinya hanya memiliki sekitar 1.650 kali kesempatan menunaikan shalat Jumat sepanjang hidupnya. Angka itu, kata dia, seharusnya membuat setiap orang bertanya pada dirinya sendiri, hingga ratusan bahkan ribuan kali kehadiran di masjid telah memberi dampak pada kualitas iman dan perilaku sosial.
Ia menegaskan bahwa ibadah, termasuk sholat Jumat, tidak seharusnya berhenti pada rutinitas menggugurkan kewajiban. Galodo yang baru saja terjadi menjadi pengingat keras bahwa umur dan kesempatan beribadah bisa terhenti kapan saja. Oleh karena itu, setiap waktu yang tersisa harus dimaknai sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi orang lain.
Fortito juga mengkritisi praktik sholat Jumat yang kerap dijalani secara seremonial, sebatas datang, duduk, mendengarkan khutbah, lalu pulang tanpa membawa perubahan. Padahal menurutnya, arti “jumat” atau “jumah” yang berarti berkumpul memiliki pesan sosial yang kuat. Pada masa para sahabat Nabi Muhammad SAW, masjid dan momen Jumat menjadi ruang bertemunya persoalan umat dengan solusi, tempat warga saling bertanya kabar, mengadukan kesulitan, dan pulang dengan harapan yang lebih terang.
Dalam konteks pasca-bencana, pesan itu menjadi semakin relevan. Fortito mengingatkan jamaah agar tidak abai terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Ia menekankan pentingnya mengenal siapa yang duduk di kanan dan kiri saat shalat, karena bisa jadi di antara mereka yang sedang sakit, kehilangan harta benda, atau bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makan setelah diterpa galodo. Menurutnya, di situlah hakikat kesalehan sosial diuji, bukan pada seberapa sering seseorang hadir di masjid, melainkan seberapa besar kepeduliannya terhadap penderitaan sesama.
Ia menilai, bencana seharusnya melahirkan persatuan dan solidaritas yang lebih kuat, bukan sebaliknya. Galodo, kata Fortito, adalah momentum untuk meninggalkan sikap hidup individualistis dan nafsi-nafsi, serta membangun kembali ikatan sosial yang saling menopang. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada pola hidup yang hanya sibuk mengejar urusan pribadi, mencapai keberhasilan sendiri, namun menutup mata terhadap kesulitan orang lain di sekitarnya.
Menutup khutbahnya, Fortito menggunakan analogi yang lekat dengan budaya Minangkabau, yakni tentang merantau. Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia ibarat perjalanan di tanah rantau yang bersifat sementara. Kampung halaman yang sesungguhnya, menurutnya, adalah kehidupan akhirat. Bencana alam hadir sebagai penanda agar manusia tidak larut dalam mengejar kesuksesan duniawi, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk kepulangan yang abadi.
Ia mengajak jamaah menjadikan musibah galodo sebagai titik balik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperkuat hubungan antarmanusia. Dengan landasan keimanan dan kebersamaan, Fortito berharap masyarakat Muaro Pingai dan sekitarnya dapat bangkit dari luka bencana, menata kembali kehidupan dengan kesadaran baru bahwa ibadah sejati tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga dari kepedulian nyata terhadap sesama manusia.
Masjid Al Kautsar Muaro Pingai sendiri selama ini dikenal tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan warga dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Pasca-bencana, masjid tersebut diharapkan terus menjadi simpul pemulihan spiritual dan sosial, tempat umat menemukan kekuatan, harapan, dan arah baru dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
