Ingetindonesia.com,Jakarta – Dunia memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh setiap 8 September. Momentum ini bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengingatkan pentingnya literasi sebagai jalan membebaskan masyarakat dari ketidaktahuan, meningkatkan ilmu pengetahuan, serta menjaga martabat manusia.
Hari Literasi Internasional sendiri pertama kali diproklamasikan UNESCO pada 1966 dan diperingati sejak 1967. Tujuannya jelas: membangun kesadaran global bahwa literasi adalah hak dasar manusia dan fondasi bagi pembangunan sosial, ekonomi, hingga terciptanya masyarakat damai.
Dalam konteks budaya, peringatan tahun ini menjadi sorotan khusus bagi literasi Aksara Batak. Jacky Simatupang, pegiat aksara Batak yang tengah mengupayakan pendaftaran aksara ini ke UNESCO, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali warisan literasi leluhur.
“Postmodernisme tidak mematikan aksara Batak. Justru menyediakan ruang baru untuk merevitalisasinya. Dengan menolak pandangan modernisme yang menganggap aksara daerah usang, postmodernisme merayakan aksara Batak sebagai ekspresi autentik identitas lokal yang relevan,” ujar Jacky.
Senada dengan itu, DR Charles Bonar Sirait menilai program pembelajaran aksara Batak, seperti yang dijalankan di seksi AMA HKBP Sudirman, menjadi pintu awal untuk mengembalikan kejayaan aksara tersebut.
“Nenek moyang kita telah mewariskan aksara Batak. Tugas kita adalah mempelajari dan mengembangkannya, hingga dikenal di tingkat internasional,” jelasnya.
Tokoh Batak lainnya, Agus Pakpahan, menambahkan bahwa pelestarian aksara Batak Toba merupakan bagian dari ketahanan budaya. Menurutnya, pembelajaran kepada generasi muda adalah kunci agar aksara tersebut tidak punah.
“Budaya Batak Toba adalah salah satu kekayaan Indonesia. Jika kita abai, aksara Batak bisa hilang. Karena itu, alih generasi harus dijaga dengan serius,” tegas Agus.
Hari Literasi Internasional tahun ini akhirnya menjadi ajakan bukan hanya untuk menjaga kemampuan literasi global, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran wisata budaya. Dengan menghidupkan kembali aksara Batak, masyarakat dapat memperkuat identitas, memperkaya pariwisata budaya, sekaligus membuka jalan agar warisan leluhur ini mendunia.
