Fashion Indonesia di Era AI, Desainer Prediksi Teknologi Makin Berperan dalam 20 Tahun ke Depan

Berita, Gaya Hidup102 Views

Ingetindonesia.com,JAKARTA – Industri fashion Indonesia diprediksi akan semakin banyak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam 20 tahun ke depan. Teknologi tersebut dinilai berpotensi membantu pelaku industri, mulai dari mencari konsep hingga proses produksi fashion.

Desainer sekaligus pendiri Danjyo Hiyoji, Dana Maulana, melihat perkembangan teknologi akan terus mengubah cara para pelaku fashion Indonesia menciptakan dan mengembangkan karya.

Menurut Dana, perjalanan teknologi dalam dunia fashion telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya desainer mengandalkan sketsa dan perangkat lunak seperti Photoshop, kini AI mulai digunakan dalam proses kreatif.

“Dulu kan kita masih dari sketch, terus Photoshop, sekarang sudah AI. Mungkin sekarang AI belum bisa seperti yang kita mau, tapi ke depannya teknologi itu akan berkembang dan akan mengikuti kita sebagai fashion practitioner,” ujar Dana saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

AI Diprediksi Mempermudah Proses Kreatif Fashion

Dana memprediksi perkembangan AI dan teknologi lainnya akan membuat proses pencarian konsep fashion menjadi lebih mudah. Teknologi dapat membantu desainer mengembangkan gagasan sebelum masuk ke tahap produksi.

“Menurut saya, dalam 20 tahun ke depan, mencari konsep akan jauh lebih mudah. Saat ini, proses mencari konsep hingga eksekusinya masih membutuhkan banyak tahapan, tapi ke depan semuanya akan jauh lebih terbantu karena teknologi semakin berkembang,” kata Dana.

Perkembangan teknologi juga tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan desainer. Menurut Dana, mesin dan teknologi produksi yang semakin maju dapat membantu pembuatan berbagai kebutuhan fashion, termasuk material dan aksesori.

Meski demikian, perubahan teknologi tetap berjalan bersama perkembangan kebutuhan konsumen. Bagi Dana, kemampuan sebuah brand untuk mengikuti perubahan generasi menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan eksistensinya.

“Kalau saya menjelaskan mengapa sebuah brand bisa bertahan selama 20 tahun, itu karena saya mengikuti perubahan atau keinginan dari setiap generasi yang ada saat ini,” ujarnya.

Ekosistem Fashion Melibatkan Banyak Profesi

Perkembangan fashion Indonesia tidak hanya bergantung pada desainer. Creative Consultant Fashion Nation, Didi Budiardjo, mengatakan keberlanjutan industri membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Tidak ada satu pihak pun yang bisa menjamin keberlanjutan industri fashion sendirian,” ujar Didi.

Menurut Didi, ekosistem fashion melibatkan desainer, retailer, buyer, pusat perbelanjaan, koreografer, fotografer hingga model. Setiap profesi memiliki peran dalam mendukung perjalanan sebuah brand dan perkembangan industri fashion.

Didi juga menilai profesi di bidang fashion jauh lebih beragam daripada hanya menjadi desainer. Perkembangan industri membutuhkan sumber daya manusia dengan keahlian berbeda untuk mengisi berbagai bagian dalam ekosistem tersebut.

“Tidak semua orang harus jadi fashion designer. Ada pekerjaan-pekerjaan lain kalau pun minatnya tentang fashion, itu banyak pekerjaan lain. Kalau enggak ya enggak bisa jalan,” tuturnya.

Regenerasi Jadi Bagian Penting Fashion Indonesia

Selain teknologi, regenerasi juga menjadi perhatian dalam perjalanan industri fashion Indonesia. Generasi yang lebih dahulu membangun industri dinilai memiliki pengalaman dan fondasi yang dapat menjadi pijakan bagi generasi berikutnya.

Didi berharap hubungan antargenerasi dalam industri fashion dapat berjalan dengan saling menghargai. Pengalaman generasi sebelumnya diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengembangkan industri lebih jauh.

“Saya rasa juga kita tuh harus respect each other. Jadi the first generation role supaya kita tuh bisa berjalan seperti sekarang ini, dan impian kami adalah ketika generasi mendatang itu bisa berlari,” ungkap Didi.

Fashion Indonesia Perlu Tetap Relevan dengan Pasar

Perubahan karakter konsumen menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan pelaku fashion. Setiap generasi memiliki kebutuhan, selera, dan karakter yang dapat berbeda.

Karena itu, brand fashion perlu memahami perubahan pasar agar produk dan konsep yang dikembangkan tetap relevan dengan konsumennya.

Perkembangan AI dan teknologi digital kemudian membuka peluang baru dalam proses tersebut. Perangkat dan metode kerja yang digunakan desainer diperkirakan akan terus berkembang, sehingga proses pencarian ide, pengembangan konsep, hingga produksi dapat dilakukan dengan dukungan teknologi yang semakin maju.

Memasuki dua dekade mendatang, perpaduan antara kreativitas manusia, teknologi AI, regenerasi, dan ekosistem industri akan menjadi bagian dari perjalanan fashion Indonesia.