Dentuman Anak Krakatau Terdengar Jauh, Mengapa Tidak Merata?

Berita, Daerah171 Views

Ingetindoensia.com,JAKARTADentuman Anak Krakatau terdengar hingga sejumlah wilayah yang ratusan kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Fenomena ini menarik perhatian karena suara letusan tidak terdengar secara merata di setiap wilayah.

Sejumlah warga di Bandung Raya bahkan melaporkan adanya getaran yang membuat kaca dan bagian rumah ikut bergetar. Di sisi lain, terdapat wilayah yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau tetapi tidak terdengar suara tersebut.

Lalu kenapa dentuman Anak Krakatau bisa terdengar sangat jauh tapi tidak merata?

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, mengatakan fenomena suara letusan yang terdengar hingga wilayah jauh dapat terjadi secara ilmiah.

Menurut Rita, berdasarkan literatur dan catatan letusan gunung api sebelumnya, suara letusan tidak selalu terdengar lebih kuat di wilayah yang lebih dekat dengan sumbernya.

“Ada beberapa laporan yang disampaikan, ketika ada letusan gunung api, suaranya bisa merambat jauh sampai ke wilayah-wilayah yang memang jauh dari sumber gunung apinya tersebut,” kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).

Rita menjelaskan energi akustik dari letusan besar dapat merambat hingga jarak yang jauh. Oleh karena itu, suara dentuman dapat terdengar di wilayah yang jaraknya ratusan kilometer.

Mengapa Dentuman Anak Krakatau Tidak Terdengar Merata?

Perambatan suara dipengaruhi oleh berbagai kondisi atmosfer. Perbedaan suhu, arah angin, dan kecepatan angin dapat mempengaruhi perjalanan energi akustik dari sumber letusan.

Kondisi tersebut membuat suara letusan tidak selalu menyebar secara merata ke seluruh wilayah.

Dengan kata lain, wilayah yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau belum tentu mendengar suara letusan lebih jelas. Sebaliknya, wilayah yang lebih jauh dapat mengalami kondisi atmosfer yang membuat energi suara lebih mudah merambat.

Fenomena seperti ini bukan pertama kali terjadi.

Fenomena Serupa Pernah Terjadi

Fenomena suara letusan yang terdengar hingga wilayah jauh juga pernah terjadi saat Gunung Kelud meletus pada tahun 2014.

Ketika itu, suara dentuman dilaporkan terdengar hingga Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Kejadian serupa juga pernah dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada bulan April 2020. Saat itu, laporan suara dentuman di wilayah Jabodetabek memiliki kesamaan waktu dengan aktivitas letusan Anak Krakatau.

Namun, PVMBG mengingatkan bahwa kesamaan waktu belum cukup untuk memastikan sumber suara.

PVMBG Belum Pastikan Sumber Dentuman

Rita menegaskan kesamaan waktu antara letusan dan laporan gigi dapat menjadi indikasi adanya korelasi. Namun, diperlukan pencocokan data untuk memastikan sumber suara tersebut.

“Kesamaan waktu memang bisa merupakan indikasi korelasi, tetapi ini juga belum dengan sendirinya membuktikan sumber gigi palsu,” ujar Rita.

Oleh karena itu, PVMBG masih melakukan pencocokan data terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan laporan dentuman di sejumlah daerah.

Apakah Bandung Membuat Dentuman Lebih Kuat?

Laporan warga di Bandung Raya yang merasakan getaran hingga membuat kaca dan bagian rumah bergetar juga menjadi perhatian.

Saat ditanya apakah kondisi topografi Bandung yang berupa cekungan membuat suara atau getaran terasa lebih kuat, Rita mengatakan hal tersebut belum dapat dipastikan.

Menurut Rita, diperlukan analisis lebih lanjut dari institusi atau pakar yang memahami perambatan gelombang suara dan kondisi atmosfer.

“Untuk hal ini, penjelasan kita harus memastikan hal tersebut,” kata Rita.

Dengan demikian, PVMBG belum menyimpulkan bahwa kondisi geografis Bandung menyebabkan dentuman anak Krakatau terdengar lebih jelas atau membuat benda di dalam rumah bergetar.

PVMBG menduga aktivitas Gunung Anak Krakatau memiliki hubungan dengan laporan dentuman karena waktu kejadiannya berdekatan.

Namun, data terkait aktivitas gunung api dan laporan suara dari berbagai wilayah masih perlu dicocokkan sebelum sumber dentuman  dapat dipastikan.

Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami letusan terus menerus selama beberapa jam. Aktivitas tersebut menghasilkan semburan merah menyala yang menyerupai air mancur lava atau air mancur lava.

Erupsi dengan karakteristik tertentu dapat menghasilkan energi akustik yang besar. Energi tersebut kemudian dapat merambat hingga jarak yang jauh.

“Dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan Gunung Api Anak Krakatau. Walaupun kita perlu mencocokkan data terlebih dahulu,” ujar Rita.

Dengan demikian, dentuman Anak Krakatau yang tidak terdengar merata bukanlah sesuatu yang mustahil secara ilmiah. Namun, penyebab spesifik mengapa suara terdengar lebih kuat di sebagian wilayah masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

PVMBG saat ini belum memastikan bahwa kondisi geografis Bandung menyebabkan perbedaan utama suara atau getaran yang dirasakan warga.