BNPB: 780 Orang Meninggal dan 564 Hilang di Sumatera, Kemenkes Fokus Mitigasi Penyakit Pascabencana

Berita501 Views

Ingetindonesia.com,Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan lonjakan jumlah korban jiwa dan hilang akibat banjir dan longsor yang menerjang Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Hingga Kamis (4/12/2025) pukul 06.00 WIB, tercatat 780 jiwa meninggal dunia dan 564 jiwa dinyatakan hilang. Data tersebut diperoleh dari situs resmi Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB).

 

Kondisi di lapangan hingga kini masih sangat memprihatinkan. Tim evakuasi terus bekerja di tengah cuaca yang belum stabil serta medan yang sulit ditembus.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan telah mengirimkan tim medis ke wilayah terdampak untuk menangani korban luka maupun melakukan mitigasi terhadap potensi penyakit pascabencana.

 

“Yang paling penting sekarang itu mitigasi dari korban-korban yang mengalami luka akut. Ada beberapa yang patah tulang, dan kita sudah kirimkan timnya ke sana,” ujar Dante di Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025).

 

Tim kesehatan di lapangan saat ini tidak hanya fokus pada penanganan luka fisik, tetapi juga mengontrol potensi peningkatan penyakit menular yang sering muncul setelah bencana besar.

Wamenkes menjelaskan bahwa beberapa penyakit berisiko meningkat setelah banjir, seperti diare, demam, batuk pilek, dan leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit akibat bakteri yang dapat masuk melalui luka terbuka atau air tercemar, dengan gejala seperti demam, nyeri otot, hingga gangguan organ.

 

“Ini yang paling penting karena kejadian pasca bencana itu berkaitan dengan penyakit-penyakit seperti diare, demam, batuk pilek, ada leptospirosis akibat banjir,” kata Dante.

 

Kelompok Rentan Menjadi Prioritas

 

Kemenkes juga melakukan pemantauan khusus terhadap kelompok rentan yang berpotensi mengalami komplikasi serius.

 

“Kita juga melakukan evaluasi pada mereka yang mempunyai risiko tinggi. Misalnya lansia, ibu hamil, orang yang menjalani cuci darah, dan pengguna insulin. Ini juga terus kita evaluasi,” tegasnya.

 

Dengan jumlah korban yang terus bertambah serta ancaman penyakit pascabencana, pemerintah mendorong seluruh elemen untuk memperkuat koordinasi dan percepatan penanganan di semua daerah terdampak. Tim kesehatan, BNPB, TNI, Polri, dan relawan terus berjibaku di lapangan untuk meminimalkan jatuhnya korban tambahan.