BI Tahan Suku Bunga Acuan, Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Jadi Pertimbangan

Berita, Ekonomi68 Views

Ingetindonesia.com,JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI Rate meski bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunganya. Keputusan tersebut diambil setelah BI mempertimbangkan kondisi inflasi dan ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan BI melakukan asesmen dan stress analysis sebelum menentukan kebijakan moneter. Analisis tersebut digunakan untuk mengukur dampak perubahan suku bunga terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

“Kami melakukan asesmen, kami juga melakukan stress analysis, dan kita juga melihat setiap dampak dari kenaikan BI-Rate terhadap ekonomi itu seperti apa,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).

BI Pertimbangkan Ruang Pertumbuhan Ekonomi

Destry menjelaskan perekonomian Indonesia masih bergerak di bawah kapasitas potensialnya. Kondisi tersebut tercermin dari output gap yang masih berada di posisi negatif.

Menurut Destry, kondisi output gap negatif memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa langsung menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.

“Kami juga melakukan assessment bahwa ternyata ekonomi kita ini masih bergerak di bawah potensial level-nya. Atau kita biasa menyampaikannya output gap-nya masih negatif. Kalau dia masih negatif berarti masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi tanpa mengakibatkan kebanyakan inflasi,” ujar Destry.

Di sisi lain, inflasi tetap menjadi pertimbangan utama Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Destry mengatakan inflasi inti atau core inflation masih berada di kisaran 2%. Sementara itu, inflasi umum tercatat 3,19%, yang terutama dipengaruhi kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food.

“Kami melihat bahwa anchor kita itu inflasi dan saat ini kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini, apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an,” kata Destry.

Selain inflasi, Bank Indonesia juga memperhitungkan dampak kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan kalkulasi internal BI yang disampaikan Destry, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.

“Kalau BI-Rate naik 25 basis point, pertumbuhan ekonomi itu akan turun 0,1%,” ujar Destry.

Pertimbangan tersebut menjadi salah satu faktor dalam menentukan instrumen kebijakan yang digunakan BI. Bank sentral memilih pendekatan melalui instrumen yang lebih terarah untuk menjaga aliran modal asing tanpa harus menaikkan suku bunga.

BI Gunakan Insentif Hedging untuk Tarik Modal Asing

Sebagai alternatif, BI memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging untuk mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.

Kebijakan tersebut difokuskan pada transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan transaksi swap.

Destry mengatakan kebijakan insentif hedging yang telah berjalan sekitar satu bulan tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, aliran modal asing yang masuk melalui instrumen DNDF dan swap telah mencapai sekitar US$6 miliar.

“Tanpa kita menaikkan suku bunga ataupun menaikkan SRBI rate, kita berharap ada inflow yang masuk. Alhamdulillah dengan kebijakan hedging incentive ini, kita sudah melihat inflow sudah masuk sekitar US$6 miliar,” tutur Destry.

Dengan strategi tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arus modal asing melalui instrumen kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi Indonesia.