Abdul Mu’ti: Kerukunan adalah DNA Bangsa, ICRP Harus Menjadi Penggerak Indonesia Maju

Abdul Mu'ti menegaskan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan bangsa mengelola keberagaman menjadi kekuatan untuk persatuan, kemajuan, dan kesejahteraan bangsa

Berita340 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa kerukunan merupakan identitas mendasar bangsa Indonesia yang harus terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan penguatan karakter.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam dialog perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 ICRP yang dirangkaikan dengan peresmian Studio ICRP TV di Jakarta. Pada kesempatan itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan keberagaman sebagai modal sosial untuk membawa Indonesia menuju bangsa yang unggul.

banner 336x280

Mengawali paparannya, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada para pendiri ICRP yang selama lebih dari dua dekade menjaga konsistensi organisasi lintas iman tersebut.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh yang telah mendirikan ICRP dan mendedikasikan hidupnya sehingga organisasi ini tetap bertahan hingga memasuki usia ke-26. Tidak banyak organisasi lintas iman di Indonesia maupun dunia yang mampu bertahan selama ini,” ujarnya.

Ia memaknai usia ke-26 sebagai fase kedewasaan organisasi.

Menurutnya, sebagaimana manusia yang memasuki usia dewasa memiliki kematangan secara psikologis, spiritual, dan sosial, demikian pula ICRP telah berkembang menjadi organisasi yang matang dalam mengelola keberagaman dan menebarkan budaya damai di tengah masyarakat.

“ICRP telah menunjukkan bahwa dengan segala keterbatasannya, organisasi ini tetap memberikan kontribusi nyata dalam merajut kerukunan, membangun persatuan, dan menanamkan benih-benih perdamaian lintas generasi,” katanya.

Abdul Mu’ti menilai Indonesia merupakan salah satu negara paling majemuk di dunia. Ia mencontohkan Indonesia memiliki sekitar 729 bahasa daerah, enam agama yang diakui negara, serta berbagai agama dunia dan komunitas penghayat kepercayaan yang turut memperkaya wajah kebangsaan.

Menurutnya, seluruh keragaman tersebut bukanlah ancaman, melainkan modal sosial, spiritual, bahkan politik yang harus dikelola secara bijaksana.

“Kerukunan adalah DNA bangsa Indonesia. Nilai itu diwariskan oleh para pendiri bangsa dan harus terus diperkuat melalui program-program nyata agar menjadi fondasi Indonesia masa depan,” tegasnya.

Sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa semangat ICRP memiliki titik temu yang kuat dengan arah kebijakan pendidikan nasional.

Ia mengatakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang menjadikan sekolah sebagai meeting point sekaligus melting point bagi seluruh anak Indonesia tanpa membedakan agama, suku, budaya maupun latar belakang sosial.

“Di sekolah anak-anak belajar mengenal keberagaman, membangun sikap saling menghormati, serta memperkuat jiwa keindonesiaan yang berlandaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan nilai-nilai budaya bangsa,” ujarnya.

Abdul Mu’ti juga memperkenalkan kebijakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, salah satunya adalah kebiasaan bermasyarakat yang dimaknai sebagai proses learning to live together.

Menurutnya, persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh perbedaan, tetapi membangun kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

“Kita ingin anak-anak Indonesia sejak dini belajar menghormati perbedaan. Persatuan bukan penyeragaman, tetapi kemampuan hidup bersama di tengah keberagaman,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyoroti masih banyaknya anak Indonesia yang belum memperoleh layanan pendidikan. Berdasarkan data pemerintah, terdapat sekitar 4,2 juta anak usia sekolah yang putus sekolah maupun belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membentuk Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal serta mengembangkan berbagai model layanan pendidikan, seperti pendidikan kesetaraan, pembelajaran jarak jauh, sekolah satu atap, komunitas belajar, sekolah terbuka, hingga program relawan mengajar.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat.

“Education is not only schooling, but learning. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu kami membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, organisasi keagamaan, dan ICRP untuk menjangkau anak-anak yang belum terlayani pendidikan formal,” jelasnya.

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa lembaga pendidikan swasta, rumah belajar, komunitas keagamaan, maupun pusat kegiatan belajar masyarakat bukanlah pesaing pemerintah, melainkan mitra strategis dalam menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif.

“ICRP dapat menjadi mitra pemerintah untuk memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal dari layanan pendidikan hanya karena kondisi ekonomi, geografis, ataupun latar belakang agamanya,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, Abdul Mu’ti juga meresmikan peluncuran ICRP TV, yang menurutnya menjadi jawaban organisasi terhadap tantangan era digital.

Ia berharap media baru tersebut menjadi ruang edukasi yang menyebarkan praktik-praktik baik mengenai kerukunan, toleransi, dan kehidupan damai, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda lintas agama untuk saling berbagi pengalaman.

“ICRP TV harus menjadi media yang menghadirkan pencerahan, memperluas ruang dialog, dan memperkuat karakter bangsa melalui konten-konten perdamaian,” katanya.

Menutup sambutannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menjaga persatuan melalui kerukunan yang tulus.

“Mari kita jalin kerukunan yang tulus untuk persatuan dan kemajuan bangsa,” pesannya di hadapan para tokoh agama, tokoh adat, organisasi kepercayaan, dan para mitra ICRP yang menghadiri perayaan HUT ke-26 organisasi tersebut.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *