Korban Tewas Protes di Iran Tembus 2.000 Orang

Internasional202 Views
banner 468x60

Ingetindonesia.com,Jakarta – Jumlah korban tewas akibat gelombang protes nasional di Iran dilaporkan telah melampaui 2.000 orang. Data tersebut disampaikan kelompok aktivis pada Selasa (waktu setempat), menjadikannya sebagai salah satu gejolak paling mematikan di Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 2.003 orang tewas sejak aksi demonstrasi pecah lebih dari dua minggu lalu. Angka tersebut jauh melampaui jumlah korban dalam rangkaian protes atau kerusuhan lain yang pernah terjadi di Iran selama beberapa dekade terakhir.

banner 336x280

Televisi pemerintah Iran untuk pertama kalinya mengakui adanya korban jiwa dalam jumlah besar. Seorang pejabat yang dikutip menyebut negara memiliki “banyak martir” dan mengklaim pemerintah belum merilis angka resmi sebelumnya karena kondisi jenazah para korban yang mengalami luka parah. Pernyataan ini muncul setelah laporan korban tewas disampaikan oleh kelompok aktivis.

Aksi protes bermula dari kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi Iran yang memburuk, sebelum berkembang menjadi tuntutan politik yang menargetkan pemerintahan teokratis, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun. Gambar dan video dari Teheran menunjukkan grafiti serta teriakan massa yang menyerukan kematian Khamenei, sebuah tindakan yang dapat berujung hukuman mati di Iran.

Media pemerintah Iran menyebut puluhan anggota pasukan keamanan juga tewas dalam kerusuhan tersebut. Pemakaman mereka bahkan berubah menjadi aksi unjuk rasa besar yang mendukung pemerintah. Otoritas Iran telah menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi korban yang tewas.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuliskan pernyataan di platform Truth Social, menyerukan rakyat Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi negara. Ia juga menyatakan membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga kekerasan terhadap demonstran dihentikan, meski tidak merinci bentuk bantuan yang dimaksud.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya masih berkomunikasi dengan utusan AS, Steve Witkoff. Namun, pernyataan Trump memicu reaksi keras dari pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, yang menuding Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Iran.

HRANA merinci bahwa dari total korban tewas, sekitar 1.850 orang merupakan demonstran, 135 lainnya terkait dengan pemerintah, serta sembilan anak-anak dan sembilan warga sipil yang disebut tidak terlibat langsung dalam aksi protes. Selain itu, lebih dari 16.700 orang dilaporkan telah ditangkap.

Pemadaman internet secara luas di Iran membuat pemantauan situasi dari luar negeri menjadi sangat sulit, dan media internasional belum dapat memverifikasi angka korban secara independen. Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi jumlah korban secara keseluruhan.

Perwakilan HRANA, Skylar Thompson, menyebut lonjakan angka kematian ini sangat mengejutkan, terutama karena dalam dua minggu jumlah korban telah mencapai empat kali lipat dari total korban protes Mahsa Amini pada 2022. Ia memperingatkan angka tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *