3 Bank Internasional Tarik Aliran Dana dari Indonesia, Ekonom: Bukan Hengkang, tapi Ubah Strategi Global

Finance111 Views

Ingetindonesia.com,Jakarta – Kabar mengenai tiga bank internasional yang menarik aliran dana dari Indonesia menjadi perhatian publik. Namun, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ekonomi Internasional (IEA) , Lili Yan Ing , menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti bank ketiga hengkang dari Indonesia , melainkan merupakan bagian dari perubahan strategi bisnis global.

Penjelasan itu disampaikan Lili melalui unggahan di akun TikTok pribadinya. Dalam video tersebut, ia mengulas fenomena capital outflow yang dilakukan sejumlah bank asing sekaligus menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

Menurut Lili, terdapat tiga bank internasional yang melakukan penarikan aliran dana senilai sekitar US$640 juta atau setara sekitar Rp11,5 triliun . Bank ketiga tersebut adalah Standard Chartered, Citibank, dan HSBC .

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dana tersebut tidak ditarik karena bank ketiga menghentikan seluruh operasinya di Indonesia.

Tiga Bank Internasional Ubah Fokus Bisnis

Lili menjelaskan, Standard Chartered, Citibank, dan HSBC memilih melepas bisnis retail Consumer Banking sebagai bagian dari strategi global untuk memusatkan perhatian pada layanan pengelolaan kekayaan atau pengelolaan kekayaan.

“Alasan utama mereka mengalihkan dana keluar dari Indonesia adalah karena mereka melepaskan bisnis konsumen ritel dan mengalihkannya ke manajemen kekayaan pada tingkat global,” ujar Lili.

Perubahan strategi tersebut sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

  • Standard Chartered melepaskan bisnis perbankan konsumen ritel kepada Bank Danamon .
  • Citibank menjual bisnis konsumennya kepada UOB Indonesia .
  • HSBC mengalihkan bisnis serupa ke OCBC .

Meski telah melepas bisnis ritel, bank ketiga tersebut masih tetap beroperasi di Indonesia. Fokus layanan mereka kini lebih diarahkan pada segmen korporasi, prioritas nasabah, investasi, dan pengelolaan aset .

Peluang bagi Bank Domestik

Lili menilai perubahan strategi tersebut tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Menurutnya, pengambilalihan bisnis ritel oleh bank domestik maupun bank regional Asia justru membuka peluang pertumbuhan industri perbankan nasional.

“Dari sisi positif, ada peralihan bisnis dari bank-bank besar dunia ke bank domestik dan bank regional. Ini sebetulnya merupakan indikasi yang baik bagi perkembangan bank domestik dan bank regional di Asia,” katanya.

Dengan berpindahnya bisnis perbankan konsumen ke pemain regional, bank-bank di Asia dinilai memiliki peluang memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan daya saing di sektor layanan perbankan konsumen.

Perlambatan Ekonomi Jadi Sorotan

Di sisi positif tersebut, Lili juga melihat adanya sinyal yang perlu menjadi perhatian.

Menurutnya, keputusan tiga bank global tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak lagi melihat prospek ekspansi bisnis perbankan konsumen di Indonesia beberapa tahun lalu.

“Dari sisi negatifnya, bank-bank besar dunia tidak melihat adanya harapan ekspansi atau perkembangan bisnis ritel konsumen mereka di Indonesia,” jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan lambatnya perekonomian domestik, khususnya menyusutnya jumlah masyarakat kelas menengah serta melemahnya daya beli masyarakat.

“Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami penurunan jumlah kelas menengah dan melemahnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu, mereka mengalihkan fokus dari bisnis ritel konsumen dan kembali menjalankan strategi global dengan fokus pada pengelolaan kekayaan,” pungkas Lili.